Tampilkan postingan dengan label Diskusi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diskusi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Oktober 2015

Jurusan dan Pekerjaan



Bekerja adalah suatu berkat yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Dengan bekerja manusia dapat bertumbuh dan berkembang menjadi lebih baik. Di era globalisasi, mencari pekerjaan bukanlah perkara yang mudah. Sebagai buktinya, di Indonesia 7,45 juta orang adalah pengangguran. Hal ini disebabkan karena dari waktu ke waktu daya saing antar manusia semakin meningkat. Perusahaan-perusahaan baik di Indonesia maupun dunia menetapkan standart pekerja mereka yang lebih tinggi dengan pertimbangan seperti pendidikan tinggi atau mempunyai konsistensi yang tinggi. Sehingga orang pun berlomba - lomba untuk belajar memperdalami bidangnya untuk menjadi yang terbaik. Karena itu, orang yang bermalas-malasan pasti akan tertinggal dan terkalahkan oleh orang yang memiliki usaha dan pendidikan yang lebih.
            Pemerintah Indonesia juga telah memiliki ketetapan khusus untuk masyarakat Indonesia dalam menghadapi tantangan kerja ini yaitu dengan program wajib belajar 9 tahun hingga lulus SMA. Program ini diterapkan kepada seluruh anak-anak di Indonesia agar masyarakat Indonesia di kedepannya pun dapat bersaing dalam tantangan kerja yang akan semakin berat untuk dihadapi. Namun, program wajib 9 tahun belajar itu pun sebetulnya masih dianggap tidak dapat bersaing dalam dunia pekerjaan. Bahkan di Indonesia, masih ada sebanyak 400.000 lulusan sarjana yang tidak dapat mendapatkan pekerjaan karena banyak yang kalah dalam daya saing. Sehingga, seberapa pentingkah pemilihan fakultas dan jurusan yang tepat di perkuliahan untuk menghadapi tantangan kerja di era globalisasi.?
            Untuk mendalami bidang yang diinginkan, para pelajar dapat mengikuti perkuliahan. Kuliah sebenarnya dibagi menjadi 3 jenjang yaitu S1,S2, dan S3. Semakin tinggi tingkatan akan membuat pelajar semakin menjadi spesialis atau ahli dalam bidang yang dipilih. Kuliah S1 biasanya kita tempuh dalam jangka waktu 4 tahun, S2 2 tahun dan S3 5 tahun. Dalam 3 tingkatan ini pelajar boleh memilih salah satu jurusan jurusan yang ingin dipelajari. Dalam Semua jurusan perkuliahan itu memiliki bahan pelajaran yang berbeda-beda dan lebih spesifik.
            Semakin tinggi jenjang yang diambil akan membuat pelajar lebih siap dalam menghadapi tantangan kerja. Di perkuliahan pelajar mendalami mengenai suatu bidang spesifik yang mereka inginkan yang terbagi dalam banyak sekali jurusan seperti diantaranya jurusan kedokteran dan kebidanan ada di fakultas kedokteran, jurusan teknik sipil dan teknik elektro ada di fakultas Teknik. Semua jurusan perkuliahan itu memiliki bahan pelajaran yang berbeda-beda. Tiap jurusan memiliki kesulitan masing-masing yang membuat para pelajar menjadi tahan uji akan setiap kesulitan yang ada. Dengan ilmu yang semakin bertambah dan disertai mental yang kuat akan membuat pelajar siap menghadapi tantangan pekerjaan di era globalisasi.
            Selain itu , pemilihan jurusan yang tepat di perkuliahan juga dapat berperan dalam penentu kesuksesan dunia pekerjaan. Jurusan yang tepat adalah jurusan yang sejalan sesuai dengan bakat dan minat para pelajar. Bila para pelajar dapat mengikuti jurusan yang diminati, para pelajar akan lebih cenderung menyukai perkuliahannya dan membuat semakin besar kemungkinan pelajar ini akan berbuat yang terbaik di pekerjaannya.
            Namun, pada kenyataannya menurut para ekonom, faktor yang lebih berpengaruh menentukan keberhasilan para pelajar dalam menghadapi tantangan kerja adalah tingkat pertumbuhan ekonomi dari daerah tersebut. Hal ini disebabkan karena tidak semua daerah memiliki geografis yang kebutuhan yang sama. Bisa saja, peluang untuk mendapatkan suatu pekerjaan sangat sulit karena daerah tersebut tidak dapat menyediakan lapangan pekerjaannya.
            Di sisi lain, ada sebagian orang yang berpendapat bahwa pendidikan hanya suatu bentuk investasi kepada para pelajar untuk mendapatkan pekerjaan. Sehingga seberapa tingginya pendidikan dan jurusan yang diambil tetap hanya kembali lagi kepada keinginan orang tersebut. Banyak orang sukses dalam menghadapi tantangan kerja di era globalisasi yang tidak kuliah sebelumnya. Mereka memilih untuk putus kuliah dan langsung mendirikan perusahaannya sendiri dan dirintis hingga besar sampai saat ini. Seperti contohnya di Indonesia ada Bob Sadino dan Andy F. Noya., selain itu, tokoh dunia Mark zuckerberg dan Bill Gates juga tidak lulus kuliah. Mereka memiliki keyakinan yang keras pada diri mereka sendiri untuk berani mengambil keputusan. Mereka membuka usaha mereka dan benar-benar mengembangkannya tanpa harus mengikuti kuliah.
            Tantangan kerja di era globalisasi juga menuntut karakter dari tiap orang. Karakter yang berani, mandiri, bisa bergaul, bisa meyakinkan orang dan bisa memimpin. Itulah karakter yang dibutuhkan. Dalam bekerja kita akan bertemu dengan pekerja lain yang mendorong kita harus dapat bersaing dan pintar untuk berargumen.
            Lingkungan perkerjaan di era globalisasi sangatlah sulit karena banyak sekali tantangan yang harus dihadapi. Banyak faktor yang harus kita perhitungkan sebelum masuk ke bidang pekerjaan dan harus kita persiapkan dari sejak dini sebagai bentuk investasi. Faktor- faktor tersebut adalah tingkat pendidikan, jurusan dan fakultas yang diambil, dan tingkat pertumbuhan ekonomi daerah. Banyaknya pesaing dari sesama angkatan kerja juga mempersulit seseorang untuk mendapatkan suatu pekerjaan. Sehingga perusahaan berlomba-lomba untuk mencari pekerja yang memiliki nilai tambah atau lebih.
            Pendidikan adalah suatu bentuk investasi ,namun pendidikan berperan sangat penting dalam mempersiapkan diri dalam pekerjaan. Karena melalui pendidikan kita selain diberi ilmu, kita juga dipersiapkan untuk menghadapi tantangan sulit yang akan dialami. Di sekolah dan perkuliahan kita mempelajari dari hal yang umum hingga hal yang spesifik dalam bidangnya. Dari tahap tersebut secara tidak sadar setap individu dibentuk secara karakteristik dan mental yang kuat. Dengan memilih fakultas dan jurusan yang tepat pun kita akan menikmati jurusan kita dan menjalaninya dengan yang terbaik. (Virya 12 IPA1)

Jumat, 16 Oktober 2015

Masih Perlukah Nasionalisme dan Patriotisme Zaman Sekarang?



            Sekitar 70 tahun lalu, rasa nasionalisme dan patriotisme sangat nyata pada setiap masyarakat Indonesia. Seluruh rakyat Indonesia berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Mereka bahkan rela berkorban dan mati untuk Indonesia. Sifat ini terus melekat pada masyarakat Indonesia, setidaknya sampai Orde Baru. Lama-kelamaan jiwa nasionalisme dan patriotisme masyarakat Indonesia mulai hilang, apalagi dengan bergantinya generasi. Karena sudah lama merdeka, masyarakat Indonesia mulai melupakan perjuangan yang ditempuhnya dahulu demi kemerdekaan.
            Hilangnya nasionalisme dan patriotisme ini juga didukung dengan masuknya era globalisasi dan kemajuan teknologi di Indonesia. Memang dengan adanya kemajuan teknologi di Indonesia, semua aktivitas orang-orang dapat dipermudah. Namun dari masuknya era globalisasi dan kemajuan teknologi ini, terdapat banyak sifat negatif yang juga masuk ke kalangan masyarakat, khususnya kalangan remaja. Salah satunya adalah individualisme. Sifat inilah yang membuat para remaja menjadi kurang peduli dengan sesama, apalagi tanah air. Mereka cenderung lebih tertarik dengan hal-hal yang ada di internet dibanding dengan hal-hal yang terjadi dalam negara mereka sendiri. Sifat kepedulian dan kegotong-royongan masyarakat menjadi berkurang, padahal itu adalah sifat “mendasar” dari warga Indonesia.
            Rasa nasionalisme dan patriotisme perlu ditanamkan pada anak sedini mungkin. Keluarga sangat berperan dalam hal ini, karena keluarga adalah lembaga pertama yang dikenal oleh seorang anak. Jika sudah tertanam sejak dini, maka sifat nasionalisme dan patriotisme akan tertanam kuat dalam diri mereka dan mereka tentunya akan bangga dan cinta akan tanah air. Cinta tanah air adalah dasar dari pemersatu bangsa. Jika para remaja tidak memiliki rasa cinta akan tanah air, maka lama-kelamaan negara Indonesia bisa hancur karena rakyatnya tidak mementingkan kepedulian bersama sebagai warga negara Indonesia. Padahal, remaja adalah generasi penerus bangsa karena mereka juga yang nanti akan memerintah negara Indonesia.
            Untuk menjadi penerus bangsa, tentunya para pelajar perlu mengerti dan menerima baik ideologi negara, yaitu pancasila. Pancasila merupakan identitas negara, sila-sila yang mencerminkan bangsa dan warga Indonesia. Dengan adanya era globalisasi, tidak sedikit para remaja jaman sekarang yang merasa pancasila sudah “ketinggalan jaman”, padahal pancasila adalah identitas negara yang bersifat fleksibel pada jaman apapun karena mengandung nilai-nilai bangsa. Para pelajar harus mempunyai sifat nasionalisme dan patriotisme agar pemikiran seperti ini hilang. Dengan begitu, para pelajar akan menghargai seluruh aspek bangsa sehingga era globalisasi tidak akan menghancurkan nilai-nilai bangsa Indonesia.
Era globalisasi juga membuat warga Indonesia, khususnya para pemuda, lebih memilih untuk mengikuti kebudayaan yang dimiliki oleh negara lain. Padahal negara Indonesia kaya akan kekayaan alam dan budaya. Contoh nyatanya adalah para remaja jaman sekarang sangat suka untuk berpakaian dengan gaya orang barat yang cenderung minim dan terbuka. Sebagai warga Indonesia kita harus selalu mengingat kebudayaan sendiri supaya budaya kita terus ada dan tidak tergantikan dengan budaya orang lain. Para pelajar perlu mempunyai sifat nasionalisme, karena dengan begitu mereka pasti akan bangga dengan kebudayaan dan kekayaan alamnya. Hal ini akan menyebabkan remaja para remaja untuk mempunyai paradigma untuk mengembangkan kebudayaan dan kekayaan alam Indonesia sehingga Indonesia bisa menjadi negara yang lebih maju.
            Selain berdampak baik, ternyata nasionalisme dan patriotisme juga dapat menjadi sumber kehancuran bangsa. Hal ini bisa terjadi karena jiwa nasionalisme dan patriotisme dalam diri seseorang terlalu berlebihan sehingga menjadi individu yang mempunyai cinta dan kebanggaan terhadap negaranya terlalu tinggi sehingga merendahkan negara lain dan menganggap negaranya paling unggul. Nasionalisme dan patriotisme yang berlebihan ini disebut chauvinisme. Hal seperti ini yang bisa menjadi senjata makan tuan, artinya akan membawa negara sendiri hancur. Pelajar atau pemuda yang seperti ini lah yang biasanya mengatasnamakan nasionalisme namun mendemo secara anarkis bahkan sengaja melukai diri sendiri demi dituruti kemauannya oleh pemerintah.
            Patriotisme yang berlebihan ini juga bisa kita lihat dari Perang Dunia II. Sikap patriotisme dari Hitler yang menjujung tinggi negaranya, yaitu bangsa Jerman, sehingga ia merendahkan bangsa lain dan menganggap kaumnya lah yang paling unggul. Sikap patriotisme yang berlebihan ini lah yang akan menghancurkan bangsa, sekaligus bangsa orang lain. Patriotime dapat menimbulkan sikap egois dalam seorang individu sehingga rela melakukan apa saja sehingga bangsanya sendiri yang paling hebat. Jika seorang pelajar memiliki patriotisme dan nasionalisme dalam pengertian sempit, maka bangsa Indonesia bisa menuju kehancuran.
Pemerintah, tepatnya mentri pendidikan dan kebudayaan, memberi aturan baru untuk seluruh sekolah di Indonesia. Mentri pendidikan dan kebudayaan mewajibkan seluruh sekolah untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap hari, sebelum memulai pelajaran. Ini adalah upaya mereka untuk menumbuhkan sifat nasionalisme dan patriotisme di kalangan pelajar. Namun sebenarnya apakah hal ini benar-benar berdampak dalam kehidupan para pelajar? Tentunya saat hal ini menjadi peraturan sekolah, pelajar mau tidak mau harus menaatinya. Namun, hampir seluruh pelajar melakukan ini karena peraturan dan bisa dibilang terpaksa. Memang, dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap hari, kita bisa menjadi lebih hafal dan akrab dengan lagu wajib nasional kita. Tetapi, dalam penerapannya, kewajiban ini kurang berdampak dalam diri para pelajar.
            Seperti yang bisa kita lihat, nasionalisme dan patriotisme mulai hilang dengan bergantinya generasi, ditambah lagi dengan adanya era globalisasi dan kemajuan teknologi di Indonesia. Hal ini menyebabkan para remaja untuk bersikap individualisme sehingga nilai-nilai negara mulai terhapuskan dalam diri para remaja atau pelajar. Nasionalisme dan patriotisme perlu ditanamkan kembali dalam diri para pelajar supaya mereka menjadi penerus bangsa yang dapat memajukan bangsa, dan tentunya cinta tanah air. Dengan begitu, bangsa Indonesia bisa terus berdiri dan Berjaya. Namun nasionalisme dan patriotisme juga dapat berdampak buruk jika dimengerti dalam arti sempit. Nasionalisme dan patriotisme yang berlebihan dapat membawa bangsa ke dalam kehancuran. Selain itu, penerapan nasionalisme dan patriotisme dalam kalangan pelajar juga hanya menjadi rutinitas semata.
            Nasionalisme dan patriotisme sangat perlu untuk ditanamkan dalam diri para pelajar. Namun, lembaga yang berkaitan seperti keluarga, sekolah, dan pemerintah, harus menanamkan nasionalisme dan patriotisme ke diri anak dengan benar. Justru dengan penanaman yang benar, chauvinisme atau nasionalisme dan patriotisme yang berlebihan dan menyimpang tidak akan ada dalam diri para pelajar. Dengan begitu juga, para pelajar tidak melakukan kegiatan-kegiatan kebangsaan hanya karena rutinitas, namun memang karena bangga dan cinta akan tanah air. Nasionalisme dan patriotisme sangat dibutuhkan dalam pemersatu negara dan juga kemajuan negara. Saat persatuan dan kemajuan negara terwujudkan maka pasti generasi selanjutnya akan lebih mudah untuk mempunyai jiwa nasionalisme dan patriotisme karena mereka akan semakin bangga dengan bangsa Indonesia. (Carroline 12 IPA1 SMA Dian Harapan Daan Mogot)

Pentingkah Pemilihan Jurusan di SMA untuk Menuju Bangku Kuliah



           SMA merupakan masa yang indah dan menyenangkan sekaligus masa yang berat karena kita sudah harus serius dalam mempersiapkan masa depan. Persiapan masa depan tersebut berkaitan dengan penjurusan atau yang sekarang dikenal dengan peminatan yang harus dipilih ketika  memasuki SMA yang terkadang membuat kita bingung sehingga tidak mengherankan kalau ada siswa yang memilih IPA bukan karena mereka cinta dengan IPA, tetapi lebih karena mereka berpikir kalau memilih jurusan IPA mereka bisa memilih jurusan kuliah dengan bebas, padahal belum tentu jurusan yang mereka pilih berhubungan dengan IPA. Di sisi lain, ada juga orang yang memilih jurusan IPS karena mereka merasa bahwa pelajaran di IPA sulit dan menganggap IPS lebih mudah sehingga mereka memilih jurusan IPS. Padahal, belum tentu IPS lebih mudah daripada IPA dan juga belum tentu bakat dan minat mereka ada di IPS sebenarnya. Namun sebenarnya, kalau kita pikirkan dengan cermat seberapa penting pemilihan jurusan di SMA untuk menuju bangku kuliah?
            Ketika kita memilih suatu jurusan, kita harus memastikan jurusan tersebut sesuai passion kita. Misalkan kita memang passion pada bidang kedokteran, berarti kita harus yakin bahwa jurusan yang kita pilih adalah IPA. Kita harus mengejar passion itu dan tidak boleh menyerah hanya karena membayangkan kesulitan pelajaran Matematika, Kimia, Biologi, dan Fisika dan hal terburujk yang bisa terjadi kita justru langsung berpindah jurusan dengan memilih IPS yang bukan merupakan passion kita dari awal. Bukankah kita tidak ingin hidup dipenuhi dengan penyesalan? Begitu penting pemilihan jurusan yang tepat untuk meniti masa depan yang sesuai dengan passion kita.  
            Di sisi lain, pemilihan jurusan pada waktu SMA terkadang juga bukan hal yang penting karena banyak kasus yang terjadi sekarang yaitu anak IPA pada saat lulus SMA saat akan menentukan jurusan di bangku kuliah, mereka mengambil lahan anak IPS, seperti  manajemen , akuntansi, hukum, dll. Hal itu bisa berarti tiga hal. Pertama, saat pemilihan jurusan mereka tidak sepenuhnya atau ada campur orang lain, teman ataupun orang tua. Kedua, mereka tidak begitu menguasai jurusan IPA karena saat memilihnya hanya demi gengsi dan bukan karena kemampuan. Ketiga, mereka berpendapat bahwa kalau mau aman nanti di kuliah, ambil jurusan IPA saja karena jurusan IPA bisa membawa kita ke dalam jurusan.
            Pemilihan jurusan di SMA untuk menuju bangku kuliah itu penting jika kita memang sudah passion di bidang tertentu yang akan kita geluti untuk meraih masa depan kita dan tentu saja yang sesuai dengan bakat dan talenta yang sudah Tuhan berikan.
Akan tetapi, di sisi lain pemilihan jurusan itu tidaklah penting jika kita belum memiliki arah yang pasti untuk menjadi apakah kita di masa depan. Bahkan meski kita sudah SMA, banyak dari kita yang selalu berubah-ubah keinganan, mimpi, dan cita-cita yang ingin kita raih.
Oleh karena itu, penting atau tidaknya untuk memilih jurusan di SMA untuk menuju bangku kuliah tidak perlu diperdebatkan. Hal yang terpenting adalah bagaimana kita menjalaninya saat kita sudah memilih jurusan tersebut.  (Avelino Kostka 12 IPA 1 SMA Dian Harapan Daan Mogot dengan pengubahan)