Tampilkan postingan dengan label Naskah drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Naskah drama. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Oktober 2015

Kemalasan Menjadi Kerajinan



Prolog:  Budi, Tono, Ian bersekolah di Sekolah Dian Harapan. Tono dan Ian sering tidak mengerjakan PR dan sering menyalin jawaban Budi. Pada hari jumat Tono dan Ian tidak mengerjakan PRnya dan mereka minta jawaban kepada Budi, tetapi Budi yang sering memberikan mereka jawaban menolak. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengerjakan PR mereka dengan bantuan Budi.

Babak I
Tono dan Ian tidak mengerjakan PR dan mendiskusikan tentang jawaban siapa yang harus mereka salin di kelas sebelum MD. Pada saat break pertama mereka mencoba untuk minta jawaban kepada Budi, tetapi Budi menolak karena ia merasa bahwa teman-temannya sudah terlalu sering menyalin jawban.

Adegan 1:
Pada hari Jumat pagi Tono dan Ian bertemu di
Tono : “Selamat Pagi Ian.”
Ian: “Pagi Tono, kamu udah mengerjakan PR matematika belom?”
Tono: “Waduh! Belom Ian, kalau kamu udah belom?”
Ian: ”Yah! Aku berharap kamu sudah mengerjakan karena aku ingin menyalin jawabanmu.”
Tono: “Gimana nih Ian, kita harus melakukan apa?”
Ian: “Coba kita menyalin jawabannya Budi biasanya ia memberikan kita jawaban.”
Tono: (Sambil berdiri) “Bener juga ya, ayo kita pergi cari Ian”
*Sepuluh menit kemudian*
Ian: (Sambil berjalan)”Budi mana ya? Kenapa kita gak menemukannya?”
Tono: “Mungkin Ia tidak datang. Kalau begitu bagaimana kita bisa menyalin jawabannya?”
Ian: “Mungkin kita akan melihatnya pada saat MD.”
Tono: “Mungkin saja.”

Adegan 2
*Pada saat MD di kelas*
Tono: “Ian itu Budi ada di sana.”
Ian: “Kalau kita menyalin jawabannya sekarang kita akan di hukum oleh guru, nanti saja pas break pertama pelajaran matematika itu pada sesi ke-5 dan 6.
Tono: “Tetapi mungkin saja kita tidak bertemu dengannya pada saat break pertama.”
Ian: “Pasti kita bertemu pada saat break karena ia selalu makan di depan kelas bersama kita.”
Tono: “Oh iya, maaf tadi aku lupa.”
Ian: “Aku maafkan tapi jangan lupa ya nanti break pertama kita salin jawabannya Budi.”
Tono: “Ok.”

Adegan 3
*di depan kelas*
Tono: “Ian itu dia Budi ayo kita salin jawaban PR matematika!”
Ian: (Sambil berjalan menuju Budi) “Ayo!”
Tono: “Budi kita pinjam jawaban PR matematika ya.”
Ian: “Iya Budi kita pinjam ya.”
Budi: “Nggak, kalian ini sudah keterlaluan setiap kali ada PR matematika selalu menyalin jawabanku.”
Ian: “Ayolah Budi aku janji ini terakhir kalinya kita menyalin jawaban PR dari kamu.”
Budi: “Walaupun kalian berjanji belum tentu kalian tepati. Kalian harus merasakan hukuman yang kalian dapatkan untuk tidak mengerjakan PR.
Tono: “Budi tolong lah kami ini satu kali lagi.”
Budi: “Tidak!”

Babak II
Tono dan Ian di hukum pada saat pelajaraan matematika, pada saat break ke-2 Budi menasehati mereka. Akhirnya Tono dan Ian menjadi anak-anak yang rajin.

Adegan 1
*di kelas matematika*
Guru: “Siapa yang tidak mengerjakan PR!”
Tono: “Saya bu.”
Ian: “Saya juga bu.”
Guru: “Mengapa kalian tidak mengerjakan PR!”
Tono: “Saya lupa bu.”
Guru: “Beralasan saja kau.”
Ian: “Buku saya tertinggal di loker bu.”
Guru: “Baiklah, kalian berdua saya berikan esai 500 kata dan kerjakan PR kalian 2 kali.”
Tono dan Ian: “Iya bu.”

Adegan 2
*di kantin pada saat break ke-2*
Budi: “Nah, itulah akibatnya dari tidak mengerjakan PR.”
Tono: “Iya, maafkan kami Budi mencoba mencontek jawaban PRmu.”
Ian: Maafkan kami ya Ian.”
Budi: “Aku maafkan, tapi lain kali kerjakan PR kalian ya.”
Ian: “Iya Budi kita akan mengerjakan PR kami, tapi kalau kita tidak bisa mengerjakannya kami boleh minta bantuan kamu kan?”
Budi: “Boleh dong, kita kan teman baik.”
Tono: “Makasih Budi!”
Budi: “Sama-sama.”

Adegan 3
*di depan kelas pada saat pulang sekolah*
Ian: “Budi! Tunggu aku.”(Sambil berteriak)
Tono: “Tunggu aku juga.”(Sambil berteriak)
Budi: “Kenapa Ian dan Tono?”
Ian: “Budi aku mau nanya tentang PR matematika yang tadi.”
Tono: “Aku juga.”
Budi: “Kalian tidak mengerti bagian yang mana?”
Ian:”aku nggak mengerti yang bagian faktorisasi ekspresi kuadrat”
Tono: “Kalau aku yang cara pake metode kali silang.”
(Budi menjelaskan kepada Ian dan Tono hingga mereka mengerti)

Epilog:
Jadi kita harus bertanggung jawab atas perbuatan kita contohnya jika kita tidak mengerjakan PR janganlah mencoba untuk menyalin jawaban teman untuk menghindar dari hukuman, tetapi kita harus bertanggung jawab dan menerima hukuman kita. (Bruce Lie 8G SMP Dian Harapan Daan Mogot)

Jumat, 16 Oktober 2015

SEBUAH TANGGUNG JAWAB



Prolog: Ada empat orang anak yang bersahabat sejak mereka kecil yaitu Clara, Eidel, Kelvin, dan Kevin. Mereka sangat suka bermain bersama sampai kadang lupa waktu dan mereka juga suka belajar bersama keempat sahabat ini tentunya mempunyai sifat, karakter, dan kebiasaan yang berbeda – beda. Clara adalah seorang anak yang rajin dan sanagat tepat waktu dia juga sangat sabar dan ramah sehingga membuat semua orang menyukainya sementara Eidel, Eidel adalah seorang anak perempuan yang sanagat tomboy dan tidak sabaran. Eidel juga suka berbicara tanpa memikirkan persaan orang. Sifat- sifat inilah yang membuat kebanyakkan orang tidak menyukainya tetapi, Hugo, Clara, dan Adam menerima semua kekurangannya itu karena menurut mereka semua orang mempunyai kekurangan. Sedangkan  kelvin dan kevin mereka merupakan anak kembar dan sifat mereka pun sangat mirip, mereka sangat sabar juga sangat rajin mereka adalah sosok anak yang sangat menjadi anak kesayangan guru! Tetapi, pada suatu hari Kevin menjadi anak yang tidak peduli lagi dengan tugasnya, menjadi anak yang tidak menghormati sesama, dan sifat – sifat yang sanagat bertentangan dengan sifatnya yang dulu....

Adegan 1:                                                
Clara, Eidel, Kevin, dan Kelvin sedang  belajar di sekolah. Mereka sedang belajar pada pelajaran terakhir yaitu pelajaran Bahasa Indonesia. Mereka mendapat tugas kelompok untuk pelajaran Bahasa Indonesia itu seperti biasanya, mereka selalu satu kelompok jika ada tugas kelompok. Tetapi, akhir – akhir ini sifat Kevin berubah Kevin menjadi anak yang tidak bertanggung jawab dengan tugasnya, sering tidak mengerjakan pekerjaan rumah, tidak sering lagi bermain dengan keempat sahabatnya, dan sering kali melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang pelajar.

Ibu Irma: “Anak – anak... kumpulkan pekerjaan rumah yang ibu brikan kepada kalian sekarang!”
Kevin: “Emangnya kita ada PR ya bu Ibu kayaknya ga pernah kasih tau saya deh”
Clara: “ Bu Irma kasih tau kita kok... Lagian, bukannya kemaren aku BBM kamu kalau hari ini ada PR Bahasa Indonesia?”
Kevin: “Mana ada? Aku kemaren sama sekali ga terima BBM dari kamu!”
Eidel: “WOI kamu ga usah bohong deh, jelas – jelas kemaren waktu aku lagi main ke rumah Clara dia tuh udah BBM kamu dan kamu jawab iya!! (sambil berdiri)”
Bu Irma: “Udah – udah Eidel sama Kevin jangan berantem, Kevin... kamu udah janji kan sama ibu kalau kamu ga akan pernah lupa lagi bikin PR?? Mana janji kamu? (sambil berjalan ke arah Kevin) Ibu udah ga tau deh gimana caranya bilangin kamu, sekarang gini aja deh kamu salin PR kamu dua kali dan kumpuli ke ibu besok pagi sebelum pelajaran pertama....”
Kevin: “Tapi bu.. kemaren tuh..”
Bu Irma: “Apa? Kamu mau bilang kalo kemaren kamu ada urusan keluarga? Kelvin... kemaren habis pulang sekolah kamu sama Kelvin ada dimana??”
Kelvin: “Di rumah bu... Kevin bohong kita kemaren ga ada urusan keluarga kok bu>>”
Bu Irma: “Kamu denger kan Vin?? Oke anak –anak sekarang ibu mau kasih tau kalian kalau kita akan ada tugas kelompok”
Kevin: “YAH kok tugas lagi sih bu??”
Bu Irma: “Kevin kamu kalau ga suka ya ga usah kerjain”
Kevin: “Eh iya bu maaf bercanda kookk hehe”
Bu Irma: “(Menatap Kevin dengan sinis) Sekarang ibu akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok. Nama pertama yang ibu sebutkan adalah ketua dari kelompok tersebut. Kelompok satu adalah (sambil tersenyum) Kelvin, Eidel, Clara dan... (sambil melihat ke arah Kevin) Kevin!”
Kevin: “(Dengan wajah kesal) APAAAA BU SAYA GA MAU SAMA MEREKA NANTI MEREKA..”
Bu Irma: “Kevin! Kamu itu ya! Udah ga ngerjain PR, suka bohong, dan sekarang kamu berani- beraninya protes sekarang juga kamu keluar dari kelas ibu dan berdiri sampai pelajaran ibu selesai”
Kevin: “YA DEH YA DEH (Berjalan keluar dengan wajah kesal)”

Adegan 2:
Akhirnya jam pelajaran terakhir pun selesai, Clara, Kevin, Eidel dan Kelvin pun pulang bersama – sama tetapi sebelum pulang mereka mampir ke toko es krim langganan mereka untuk melepas penat
(Di toko es krim)

Eidel: “MBAK! Eskrim nya yang rasa coklat satu, ga pake lama”
Clara: “Eidel! Kamu ngomong pelan – pelan sama mbaknya bisa kan?? Mbak, maafin temen saya ya hehe”
Penjual es krim: “Iya dek gapapa kok”
Eidel: “Iya iya (Dengan wajah sedikit kesal)”
Clara: “Kev, Kel kalian mau rasa apa?”
Kevin: “Coklat deh”
Kelvin: “Vanilla aja”
Clara: “Oke, jadi coklat dua, vanilla satu, sama durian satu ya mbak”
Penjual es krim: “Oke dek tunggu sebentar ya...”

Adegan 3:
Sementara penjual es krim mengambilkan pesanan mereka, mereka pun duduk sambil membicarakan rencana untuk tugas kelompok mereka... namun, sesuatu terjadi...

Clara: “Eh kita besok jadi ke rumah aku buat ngerjain tugasnya???
Kevin: “Ha? Emang aku jadi sekelompok sama kalian??”
Eidel: “Ya jadi lah, makanya lain kali tuh kalau mau ngomong di pikir dulu biar ga di hukum gara – gara mulut kamu itu”
Kevin: “Iya iya ga lagi deh, jadi besok jadi ya?”
Clara: “Jadi Kev. Kamu bawa informasi tentang paragraf itu apa, sama bawa hiasan – hiasan buat ngehias”
Kevin: “Lah kenapa harus aku? Kan Kevin bisa. Kalian tolong lah ngertiin aku, aku kan disuruh bikin PR Bahasa Indonesia dua kali. Belum lagi ada PR Matematika sama IPS”
Kelvin: “Aku kan disuruh bawa karton manila sama informasi tentang kalimat pasif dan aktif masa aku juga sih yang bawa informasi tentang paragraf sama hiasan – hiasannya??”
Kevin: “Yaudah yaudah. Kalo gitu yang bawa Eidel aja”
Eidel: “APAAN SIH. Aku tuh udah bawa informasi tentang frasa sama bawa gunting sama lem. Lagian itu kan salah kamu juga gak ngerjain PR Bahasa Indonesia dan PR Matematika sama IPS kan udah dikasih dari dua hari yang lalu harusnya kamu tuh nyicil kerjain semua PR kamu!”
Clara: “Bener tuh kata Eidel. Harusnya kamu tuh nyicil ngerjain PR kamu dari jauh – jauh hari biar kalo ada PR lagi ga numpuk gini”
Kevin: “Kalian selalu aja marahin kau. Lagian kan terserah aku mau ngerjain apa engga. Bukan urusan kalian juga kan kalau aku dihukum terus??”
Eidel: “Urusan kamu dihukum terus emang bukan urusan kita dan ga bakal ngerugiin kita. Tapi, kalau urusannya kayak gini ngeribetin orang ga sih?!?! “
Kelvin: “Bener tuh. Kamu sih di rumah kerjanya main melulu urusan sekolah ga kamu urusin, jadi numpuk gini kan??”
Kevin: “Udahlah terserah kalian. IYA EMANG AKU SALAH GA NGERJAIN PR, SELALU MAIN GAME, GA NGURUSIN URUSAN SEKOLAH. POKOKNYA AKU SELALU SALAH DAN KALIAN BENER (sambil berdiri dan keluar dari toko es krim)”
Penjual es krim: (Mengantar es krimnya)
Eidel: “Kevin! Tunggu!”
Kevin: “APA LAGI?!??!?!?”
Eidel: “Es krim kamu nih”
Kevin: “KALIAN AJA SONO YANG MAKAN”

Adegan 4:
Keesokkan harinya pun mereka berkumpul di rumah Eidel. Kemarahan Kevin berhasil di redakan oleh Kelvin. Jadi, pada hari itu mereka semua berkumpul untuk mengerjakan tugas kelompok mereka.

Kelvin: “EIDEL EIDELL EIDELLL!! (sambil bergaya seolah – olah berteriak)”
Eidel: “Iya Vinnnnn tunggu yaaa! (Sambil berjalan keluar dari rumah)”
Kevin: “CEPETANNN!”
Eidel: “Eh ada Kevin juga? Aku kiraa kamu ga dateng masih ngambek (Tertawa)”
Kevin: “Iya iya maaf ya.. Kemaren aku kayak gitu sama kalian padahal maksud kalian baik sama aku”
Eidel: “Iya, iya gapapa... Eh, tuh Clara ( sambil menunjuk Clara)”
Kelvin: “Eh iyaaa tuh dia! HAI CLARA! ( Sambil berteriak dan berjalan menuju Clara dan membawakan barang bawaan Clara)”
Clara: “Eh.. makasih Vin (Sambil berjalan menuju rumah Eidel)”
Kevin: “Iya iya kan kita temen udah seharusnya kan aku bantu kamu hehe (Sambil berjalan menuju rumah Eidel bersama Clara)”
Eidel: “Eh Kel liat deh, mereka cocok banget yaaa (Tersenyum)”
Kevin: “HAHA iya, udah kayak orang pacaran aja ya merekaa”
Clara: “Duh berat (Sesudah sampai di rumah Eidel)”
Kelvin: “Tau nih kalian berdua bukannya bantuin kita malah ketawa – tawa aja berdua”
Eidel: “HAHA habisnya, kalian cocok banget sih kayak orang pacaran gitu”
Kevin: “Udah kalian pacaran beneran aja sekalian HAHA”
Kelvin & Clara: “Apa sih kaliann”
Eidel: “Udah deh masuk aja yuk! (Tertawa)”

Babak  2
Akhirnya mereka pun masuk ke dalam rumah Eidel dan mengerjakan tugas mereka masing – masing. Namun, Kevin tidak bertanggung jawab dan masa bodo dengan tanggung jawabnya.

Adegan 1:
Mereka pun mulai mengerjakan tugas mereka masing- masing tetapi , Kevin baru sadar bahwa dia lupa membawa bahan – bahan untuk mengerjakan tugas tersebut
Kevin: “Eh temen – temen maaf aku baru sadar aku lupa bawa bahan – bahan yang kalian suruh bawa, maaf ya...”
Kelvin: “Bukannya semalem aku udah ingetin kamu??”
Kevin: “Ya kan namanya manusia bisa lupa juga..”
Clara: “Kan kamu kayak gitu kan vin aku jadi males sama kamu”
Eidel: “Udah – udah. Aku udah tau kamu bakalan kayak gini jadi, aku suruh Kelvin yang bawa.”
Kevin: “Maaf ya..”
Eidel: “Yaudah kita langsung kerjain aja”
Kelvin: “Yaudah, ayoo”
*Beberapa jam kemudian*
Kevin: “Duh aku sih sebenernya males ngerjain tugas beginian jadi, kalian aja ya yang ngerjain aku kan udah dateng ke sini jadi gapapa dong ga ngerjain dan daripada aku di sini ga ngapa –ngapain mending aku pulang kan jadi...”
Eidel: “EH EH ga bisa gitu dong! Kamu jangan tau enaknya aja dong udah ga bawa apa –apa main mau pulang aja! Mau aku bilangin Bu Irma kalau kamu ga ngerjain terus kamu ga dapet nilai?”
Clara: “Kel, kok kamu sekarang jadi gini sih? Kamu berubah! Kamu bukan Kevin yang dulu lagi tau? Kamu yang dulu tuh bertanggung jawab banget sama semua tugasnya, selalu paling rajin kalau kerja kelompok, dan selalu kumpulin PR nya tepat waktu. Tapi, kamu malah kayak gini sekarang. Kamu kenapa sih??”
Kevin: “Ya aku aku aku (tidak bisa berkata – kata)”
Eidel: “Nah, Clara yang awalnya nasehatin kamu baik – baik aja sekarang jadi kayak gini sama kamu. Kamu belum mau sadar juga?”
Kelvin: “Kev, kamu udah cape jadi anak baik ya makanya kamu jadi kayak gini?? (Sambil tertawa)”

Adegan 2:
Kevin pun sadar bahwa yang dilakukannya akhir –akhir ini salah. Kevin sadar karena, Clara yang paling sabar dari teman- temannya yang lain,.  tiba – tiba bertindak tegas padanya

Kevin: “Aku salah ya?? Duh, maafin aku ya...”
Clara: “Iya! Kamu tuh salah banget tau ga??”
Kevin: “Maafin aku ya... Akhir –akhir ini tuh aku lagi seru main game jadinya semua tugas sekolah terbengkalai gara – gara yang ada di otak aku game doang...”
Eidel: “Ya udah... Ayo kita lanjutin kerjaannya..”

Adegan 3:
Akhirnya keesokkan harinya pun mereka mengumpulkan tugas mereka dan mereka mendpatkan nilai terbaik dari satu kelas

: “WAHHHH KITA DAPET NILAI PALING BAGUSS!”
Clara: “Iya nih berkt kerja keras kitaaaaa”
Kevin: “IYAA HEHE”
Kelvin: “Aku seneng banget hehe lain kali kalo disuruh bikin kelompok aku mau sama kalian terus aja dehhh hehe”
Clara, Eidel, dan Kevin: “AKU JUGA”
Akhirnya, Kevin menjadi Kevin yang dulu lagi. Dia kembali menjadi anak yang bertanggun jawab pada tugas –tugasnya dan membatasi waktu bermain gamenya. Persahabatan mereka pun menjadi persahabatan yang didambakan oleh semua orang, persahabatan yang tidak mengenal apa arti musuh dan tidak mengenal kata akhir dari persahabatan tersebut.

Pesan Moral
Kita harus selalu menomor satu kan kepentingan sekolah dan selalu bertanggung jawab dengan kewajiban kita. (Devinda 8F SMP Dian Harapan Daan Mogot)