Tampilkan postingan dengan label Pasal Keduabelas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pasal Keduabelas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Januari 2016

Makna dan Pesan Gurindam 12



Gurindam 12 adalah salah satu puisi Melayu lama, hasil tulisan Raja Ali Haji, seorang sastrawan dan Pahlawan Nasional yang berasal dari Pulau Penyengat, Provinsi Kepulauan Riau. Gurindam ini ditulis dan diselesaikan di Pulau Penyengat pada tanggal 23 Rajab 1264 Hijriyah atau 1847 Masehi pada saat Raja Ali Haji berusia 38 tahun.
Karya ini terdiri dari 12 Pasal dan dikategorikan sebagai Syi'r al-Irsyadi atau puisi didaktik, karena berisikan nasihat dan petunjuk hidup. Di bawah ini makna, pesan, dan tanggapan penulis terhadap beberapa bait dalam pasal 12 Gurindam 12. 

Pasal ke Duabelas (12) Gurindam 12
(1)   Raja mufakat dengan menteri
Seperti kebun berpagarkan duri
• Hubungan raja dengan menteri adalah saling menjaga satu sama lain, dan harus bekerjasama.
(2)   Betul hati kepada raja
Tanda jadi sebarang kerja
• Raja yang baik atau raja yang mendapat petunjuk dari Allah adalah raja yang adil terhadap rakyatnya.
(3)   Hukum adil atas rakyat
Tanda raja beroleh inayat
• Hukum harus didasari oleh hak asasi manusia.
(4)   Kasihkan orang yang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu
• Orang yang berilmu akan dikaruniai oleh Allah dan dihormati orang lain.
(5)   Hormat akan orang yang pandai
Tanda mengenal kasa dan cindai
• Hormatilah setiap manusia.
(6)   Ingatkan dirinya mati
Itulah asal berbuat bakti
• Bila manusia mengingat kematiannya nanti, ia akan lebih berbakti pada Allah.
(7)   Akhirat itu terlalu nyata
Kepada hati yang tidak buta
• . Orang yang tidak buta hatinya tahu kalau akhirat itu benar-benar ada.

Bait ketiga dalam pasal 12 ini mempunyai makna bahwa hukum harus didasari oleh hak asasi manusia. Makna dari gurindam ini memang benar adanya, karena jika tidak didasarkan hak asasi manusia, maka hukum itu sudah tidak sesuai dengan tujuan awalnya yang dibuat untuk mendisiplinkan, menertibkan, dan membentuk orang-orang yang diatur (termasuk para pembuat hukum). Jika tidak sesuai dengan hak asasi manusia, maka hukum itu dibuat semata-mata hanya untuk memenuhi keinginan pihak-pihak tertentu. Melihat makna dari gurindam tersebut, ada baiknya kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dalam bidang hukum. Hak asasi manusia harus menjadi dasar pembuatan hukum supaya hukum itupun diberlakukan adil tanpa pandang bulu, dan tetap memperhatikan setiap orang yang diaturnya, karena manusia yang bersalah (secara hukum) pun tetap mempunyai hak yang sama seperti yang tidak.
Menganalisa dari bait empat, orang-orang yang berilmu, pasti sudah lebih banyak mengalami dan mengetahui hal-hal yang membuka pikiran, hingga pandangan dan pikiran orang-orang tersebut lebih luas dan terbuka (terutama terhadap hal-hal baru). Pandangan dan pikiran orang berilmu akan terlihat dari perilaku dan apa yang dikeluarkan dari mulutnya. Karena hal itu, yang berilmu biasanya lebih bijaksana dan tidak mudah menghakimi dalam menilai sesuatu atau seseorang. Perilaku dan kata-katanya dewasa, sopan, dan berarti. Maka dari itu, orang-orang berilmu biasanya dihormati oleh orang lain. Orang berilmu biasanya suka tantangan dan tidak mau merasa puas dengan yang ia sudah punya atau tahu. Orang yang rajin menuntut ilmu dikaruniai Allah karena ia mempunyai tujuan dalam hidupnya, hal itu berarti manusia menjalankan hidupnya dengan memuliakan Allahnya melalui usahanya mencapai tujuan itu. Karena itu, kita mesti rajin, dan mau membuka pikiran kepada hal-hal baru (termasuk kepada hal-hal yang tidak sejalan dengan pendapat kita). Hal-hal tersebut dapat membantu kita bertumbuh menjadi orang yang lebih berkualitas. 
Makna dari bait gurindam "Hormat akan orang yang pandai-Tanda mengenal kasa dan cindai" adalah menghormati setiap manusia tanpa syarat. Karena dengan menghormati orang lain, itu menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Selain itu, kita juga menghormati Pencipta manusia-manusia yang kita hormati, beserta Pencipta kita sendiri. Dengan menghormati setiap manusia, itu menunjukkan kalau kita menghormati dan menilai orang berdasarkan nilai-nilai yang ada pada dalam dirinya, dan bukan berdasarkan hal-hal duniawi sementara seperti misalnya kekayaan. Gurindam ini memberi pelajaran kepada kita, untuk selalu menghormati semua orang, tidak peduli siapa dia. Menghormati orang lain berarti kita mengasihi dan menghormati diri kita sendiri, orang lain, dan Pencipta kita semua. 
Dari bait ke-6 di pasal 12 Gurindam12 ini, berikut pesan makna yang dapat disimpulkan. Jika manusia selalu ingat bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara, manusia sadar bahwa tubuh fisik, kekayaan, popularitas, dan hal-hal duniawi lainnya tidaklah selamanya, dapat hilang kapan saja dan tidak akan dibawa ke dunia Akhirat yang kekal. Karena hal itu, dengan bergantung pada Hukum Tuhan, manusia akan hidup baik. Contohnya, ia akan menghargai orang lain karena nilai-nilai diri orang itu, bukan karena penampilannya atau hartanya. Manusia akan lebih menghargai setiap hal yang ia punya tanpa berpikir bahwa ia dapat sombong karena memiliki hal-hal duniawi tersebut. Ada baiknya jika kita sebagai manusia, harus selalu ingat bahwa tidak ada yang abadi di dunia. Maka dari itu, manusia harus hidup beriman sesuai hukum Allah, supaya hidup menjadi lebih terarah dan baik. 

Melalui bait ketujuh pasal 12 Gurindam12 ini, dapat kita mengerti bahwa orang-orang yang beriman dan terbuka pikirannya, tahu bahwa ada kehidupan setelah kematian. Orang tersebut akan berpikir bahwa seluruh hal yang ada dan terjadi di dunia ini bukanlah hasil kerja manusia, karena kemampuan manusia terbatas. Pasti ada Sosok lain yang sudah mengatur seluruh tata surya kita, dari planet-planet yang selalu bergerak sesuai orbitnya, sampai kepada kelahiran dan kematian setiap manusia di dalam Bumi. Orang-orang yang hidup benar tidak akan takut untuk meninggalkan dunia karena ia tahu kemana ia akan pergi. Sedangkan orang-orang yang mengira bahwa seluruh kepunyaannya di dunia adalah kekal, dan bertindak tidak sesuai dengan firman Tuhan, akan berbuat semau-maunya. Maka dari itu, kita harus selalu percaya bahwa ada kuasa lain diluar kuasa manusia yang tidak akan pernah terungkap sepenuhnya. Manusia akan merasa rendah hati dan selalu berusaha menjadi orang yang lebih baik, dan tidak akan takut mati karena ia yakin kemana ia akan pergi di akhirat. (Nadia 12 IPA1)

Minggu, 17 Januari 2016

Pesan Raja Ali Haji melalui Gurindam 12



              Melalui gurindam yang berbunyi “Hukum adil atas rakyat, tanda raja beroleh inayat,” Raja Ali Haji ingin memberitahukan kita bahwa hukum harus berdasarkan hak asasi manusia. Bila suatu negara tidak mengintegrasikan hak asasi manusia dalam undang-undang mereka, negara tersebut dapat mencelakakan rakyatnya. Sebagai contoh, Korea Utara merupakan negara yang terkenal kurang menghargai hak asasi manusia. Banyak warganegaranya dipenjara, disiksa, dan dibunuh karena melanggar keinginan penguasanya yang fanatik. Hal tersebut menghambat pertumbuhan sumber daya manusianya dan mengakibatkan mandeknya pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
            Gurindam yang berbunyi “Raja mufakat dengan menteri, seperti kebun berpagarkan duri,” ingin memberitahu kita bahwa hubungan raja dengan menteri adalah saling menjaga satu sama lain dan harus bekerja sama. Nilai kerja sama merupakan nilai yang sudah dijungjung tinggi sejak zaman nenek moyang kita. Tanpa kerja sama, manusia akan mengalami kesulitan bertahan hidup dan memenuhi kebutuhannya. Manusia sangat tergantung akan satu sama lain, dan aturan tersebut masih berlaku bahkan sampai sekarang di berbagai aspek kehidupan, termasuk di dalam dunia politik. Seorang raja atau presiden tentu tidak bisa mengatur suatu negara sendirian. Ia memerlukan beberapa penolong seperti menteri untuk membantunya. Agar fungsi pemerintahan dapat berjalan dengan lancar, presiden dan para menteri harus bekerja sama untuk mencapai suatu target. Bila mereka terus-terusan bertengkar, akan sulit bagi mereka untuk menyelesaikan persoalan negara. Selain kerja sama, mereka juga perlu menjaga satu sama lain karena mereka saling bergantung. Tanpa menteri, kinerja presiden pasti akan mengalami kemunduran, demikian juga sebaliknya. Presiden dan menteri yang menjaga satu sama lain dan dapat bekerja sama dengan baik akan lebih mampu berkontribusi untuk negaranya.
            Dengan gurindam “Hormat akan orang yang pandai, tanda mengenal kasa dan cindai,” Raja Ali Haji ingin menasihati kita untuk menghormati semua manusia. Di bumi ini, manusia dilahirkan dari berbagai macam latar belakang. Ada yang miskin dan ada yang kaya, ada yang lahir sehat dan ada yang cacat, ada yang cantik dan ada yang buruk rupa, dan lain-lain. Walaupun demikian, Tuhan memandang semua manusia ciptaan-Nya sederajat. Tidak ada manusia yang kedudukannya lebih baik maupun lebih buruk di hadapan Tuhan. Ketika kita tidak menghormati seseorang, kita merasa diri superior dan merendahkan kedudukan orang tersebut. Dengan bersikap demikian, kita telah berdosa karena menjelek-jelekkan ciptaan Tuhan yang diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa-Nya.
            Gurindam “Ingatkan dirinya mati, itulah asal berbuat bakti,” memberi tahu kita bahwa manusia akan lebih berbakti kepada Allah bila manusia mengingat kematiannya. Manusia terkadang hidup seakan-akan ia akan hidup selamanya. Salah satu kebiasaan manusia yang dapat sering kita lihat adalah kebiasaan menunda. Manusia menunda banyak hal yang seharusnya berada di prioritasnya yang  teratas, seperti beribadah. Dengan pemikiran seperti “Ah, besok saja saya melakukannya,” manusia melupakan bahwa besok bisa saja ia mati. Kemudian, saat ia sadar bahwa kematiannya akan datang sebentar lagi, ia menyesali masa lalunya dan berharap bisa kembali ke masa lalu. Maka dari itu, kita harus menggunakan waktu kita dengan baik-baik dan dapat mengendalikan diri untuk mengabaikan yang tidak penting dan memprioritaskan apa yang benar-benar bermanfaat dalam hidup kita, seperti beribadah.
            Gurindam yang berbunyi “Kasihkan orang yang berilmu, tanda rahmat atas dirimu,” ingin mengingatkan kita bahwa orang yang berilmu akan dikaruniai oleh Allah dan dihormati orang lain. Tuhan telah mengaruniakan manusia dengan akal budi, namun kebanyakan manusia memilih untuk bermalas-malasan dan tidak memanfaatkan karunia Allah tersebut. Padahal, berdasarkan Alkitab, kita harus mengembangkan talenta-talenta kita untuk Allah dan juga untuk umat manusia. Selain itu, pada era globalisasi, orang yang berilmu juga akan lebih dipandang dan diincar baik oleh pemerintah, lembaga-lembaga nonprofit, dan juga perusahaan besar. Oleh karena itu, ketika kita menjadi seseorang yang berilmu, kita tidak hanya membahagiakan Tuhan, tetapi kita juga akan lebih dihormati oleh sesama manusia.
(Celine Devianty/ 12 IPA 1)