Tampilkan postingan dengan label kritik cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kritik cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 September 2015

Belajar Nilai dan Pesan Moral dari Cerpen



Harris Effendi Thahar merupakan salah seorang sastrawan berkebangsaan Indonesia yang cukup terkenal dengan beberapa buku karangan dan sajak yang ia buat. Ia lahir di Tembilahan, Raiu, 4 Januari 1950. Banyak buku yang sudah dirilisnya seperti buku kumpulan cerpen yang berjudul Si Padang, Anjing Bagus, Kado Istimewa, dan lain sebagainya.
Cerpennya yang berjudul Cincin Akik di Kamar Mandi yang telah dirilisnya pada tanggal 5 Juli 2015, mengisahkan tentang seorang pensiunan yang mengamati kehidupan disekitar kampungnya. Dimana satu per satu orang yang dikenalnya mulai pergi meninggalkan dunia yang fana ini, hingga akhirnya ia pun menyusul mereka semua meninggalkan dunia akhirat. Hal ini dapat kita ketahui dari beberapa potong kalimat yang menunjukkan bahwa penulis mengamati lingkungan disekitarnya :
Belum selesai jamaah berzikir sehabis shalat subuh, terdengar garin masjid meraih mikrofon. Hati Wen sudah berdetak, ini pasti pemberitahuan bahwa adawarga yang meninggal. Benar saja, Haji Jamal pensiunan Kantor Pajak, meninggal dini hari tadi di Rumah Sakit Besar. Kabarnya, sebelum masuk Rumah Sakit Besar seminggu sebelumnya, Haji Jamal terjatuh di kamar mandi sehabis buang air besar.

Biasanya, kalau Wen duluan datang ke masjid, ia mendatangi dan menyalami Wen. Gampang menandainya, karena kebiasaan Haji Jamal memakai peci hitam bersulam benang emas, seperti biasa dipakai engku-engku datuk di tanah Minang serta berbaju koko berenda-renda. Hanya dia yang memakai peci seperti itu. Selain itu, Haji Jamal selalu memakai parfum khas Arab tiap datang ke masjid.

Masjid Almakmur sepertinya ditakdirkan untuk orang-orang pensiunan. Tidak banyak memang, lebih kurang dua puluhan untuk jamaah harian laki-laki. Jamaah perempuan lebih kurang sama karena sebagian besar ikut suami ke masjid. Oleh karena itu, Wen hafal betul wajah-wajah jamaah harian masjid Almakmur.

Cerpen kedua yang berjudul Anak Panah yang telah dirilisnya pada 18 september 2008 ini, menceritakan bahwa putra Anisah yang bernama Agus sedang melanjutkan studi ke Bandung, namun sudah lama sekali sang buah hati tidak mengirimkan pesan ataupun memberi kabar ke tetangganya tentang keadaannya dan proses studinya di Bandung. Sang ibu khawatir dan banyak tetangganya membicarakan Agus, khususnya Nyonya Rakusni yang ingin menjodohkan anaknya putrinya dengan Agus. Oleh karena itu, Anisah ingin mengunjungi Agus di Bandung. Sesampainya di Bandung, ia tidak bertemu dengan Agus. Konon katanya Agus sudah menjadi penyair di Bandung sehingga sangat sibuk. Ibu Agus pulang ke kampung dan mendapat surat dari sang buah hati yang membuat ayah Agus meninggal dengan damai. Hal ini dapat kita ketahui dari beberapa kalimat :

“Perasaan, sudah hampir tujuh tahun. Biasanya, empat atau lima tahunan harus sudah lulus. Putri saya si Mira saja yang baru tiga tahun, sudah mulai skripsi tuh,” tutur Nyonya Rakusni 

Dari para mahasiswa pulang kampung itulah Anisah tahu bahwa Agus di Bandung begitu sibuk dan menjadi orang penting.
“Baru-baru ini ia ikut sarasehan para penyair muda di pedalaman Solo,” kata yang lain lagi. “Khabarnya dia dekat dengan penyair Apridjal Malano.”

Di malam yang ketujuh, cukup sudah jantung Anisah dirobek-robek rindu. Agus tak kunjung muncul. Ia ingin segera pulang esok harinya. Malam itu ia ingin menulis surat untuk ditinggalkan agar dibaca Agus kalau ia pulang ke sarangnya. Ia ingin menulis panjang-panjang, tentang banyak hal, termasuk tentang Mira gadis bungsu Nyonya Rakusni yang menunggunya.

Melalui cuplikan kedua cerpen ini, Harris ingin menyampaikan pesan moral yang berguna dan mudah untuk pembaca mengerti. Pada cerpennya yang berjudul Cincin Akik di Kamar Mandi dapat dilihat bahwa beliau ingin menyampaikan bahwa kita sebagai manusia tidak pernah tahu kapan Tuhan memanggil kita. Berbeda sekali dengan cerita yang berjudul Anak Panah yang ingin menyampaikan bahwa sebagai manusia kita harus bisa untuk berjuang hidup secara mandiri walaupun orang tua memberikan segalanya.
Bahasa yang digunakan oleh Harris sangatlah kental. Hampir seluruh cerpennya memiliki bahasa yang cukup mudah untuk dipahami dan setiap kata yang digunakan memiliki makna yang dalam. Cuplikan dari cerpen yang menandakan bahwa bahasa yang digunaka Harris begitu kental yaitu, “Anakmu bukanlah anakmu, ia hanya busur panah mesti kau lepaskan. Aku sudah lama bukan kanak lagi, “ (Cerpen “Anak Panah”).
Keunikan dari cerpen karya Harris Effendi Thahar yaitu beliau menuliskan cerpennya dengan berdasarkan kehidupan masyarakat disekitarnya. Ia pun pandai membuat karyanya menjadi menarik untuk dibaca, sehingga pembaca menjadi penasaran dan ingin mengetahui lebih jauh mengenai karya-karyanya. Alur didalam cerpennya cukup mudah dipahami, namun di salah satu cerpennya yang berjudul “Cincin Akik di Kamar Mandi,” beliau menulis dengan alur campuran, sehingga pembaca cukup sulit untuk memahami ceritanya.
            Nilai-nilai dan penokohan yang digunakan dalam cerpen “Anak Panah” dan “Cincin Akik di Kamar Mandi” dijabarkan atau dijelaskan dengan terperinci, namun kekurangan dari cerpennya yaitu akhir yang cukup susah untuk dimengerti oleh pembaca karena makna terlalu tersirat didalam setiap cerpen Haris. Diakhir cerpennya pun selalu diakhiri dengan adegan kematian seseorang. Seperti pada cerpennya yang berjudul “Cincin Akik di Kamar Mandi” diceritakan apabila tokoh utama menginggal dunia. Dapat dilihat dari cuplikan kalimat, “Setelah menyampaikan pesan itu kepada istrinya, Wen tidak berkata-kata lagi hingga dinyatakan meninggal seminggu setelah percakapan itu.” Di cerpen “Anak Panah” juga diceritakan bahwa ayah dari tokoh utama meninggal, dapat dilihat dari cuplikan kalimat, “yahnya terdiam. Anisah bungkam dan air matanya menghujan. Gadis membaca doa dengan hati teriris. Ayah Agus sudah pergi tanpa pesan apa-apa, seperti tidak terjadi apa-apa, setelah jiwanya melesat bagai anak panah yang lepas dari busurnya.”
            Alangkah lebih baik, bila cerpen ini dibuat dengan memasukkan makna yang tersurat bukan tersirat sehingga pembaca dapat dengan mudah mengerti apa yang ingin di sampaikan penulis. Namun kedua cerpen ini sudah mencerminkan keindahan yang luar biasa dan sangatlah dianjurkan untuk dibaca. (Kevin Gunawan 12 IPA 1 SMA Dian Harapan Daan Mogot)

Kenangan dalam Cerpen



Sunlie Thomas Alexander adalah seorang pengarang yang lahir di Belinyu, Pulau Bangka, 7 Juni 1977.Terakhir studi di jurusan Diskomvis, Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta. Menulis cerpen, puisi dan esai yang dipublikasikan di majalah Horison, Jurnal Cerpen Indonesia, Jawa Pos, Suara Merdeka, Bernas, Lampung Post, Sriwijaya Post, Padang Ekspres, Sijori Pos, Sumatera Ekspres, Rakyat Merdeka, Bangka Pos, majalah Hai dan lain-lain. Terhimpun sejumlah antologi cerpen dan puisi bersama dan pemenang lomba, di antaranya, Kelekak (2005) dan Jalan Berantu Menuju Baro. Intens bergiat di Komunitas Rumah lebah, Yogyakarta dan bersama kawannya di Yogyakarta mendirikan Komunitas Ladang, sebuah kelompok studi kajian social-budaya dan filsafat. Saat ini berada di Bangka untuk menyelesaikan bakal novernya Langit Ketiga Puluh Tiga. Cerpennya Jelaga Hio terpilih sebagai 14 Cerpen Terbaik Sayembara Menulis Cerpen Anugerah Horison 2004.
Ia adalah seorang penulis yang handal serta terkenal dengan gaya penulisannya yang dengan alur “flashback” dan juga selalu menggambarkan cerita berlatar belakang sejarah maupun sejarah dalam waktu yang panjang maupun sejarah dari orang-orang tertentu yang mereka alami. Seperti 2 cerita yang berjudul “Kenangan akan Sebuah Pertandingan” dan “Makam Seekor Kuda”.
Dalam Cerita Kenangan pada Sebuah Pertandingan menceritakan bagaimana pengalaman menyakitkan seorang pemain bola yang tidak dapat terlupakan. Awalnya kejadian ia mengingat kejadian tersebut karena setelah pertandingannya yang terakhir ini, ia tidak pernah menginjakkan kakinya di lapangan bola itu lagi, tetapi karena anaknya yang sangat rewel suka sekali dalam hal sepak bola. Hal itu membuat ia menginjakan kakinya lagi di lapangan yang terakhir kali ia bermain bola. Dalam pertandingan itu diceritakan bagaimana timnya kalah pertandingan sepak bola yang telah menjadi harga diri kampung itu. Tetapi karena kondisi lapangan pula yang tidak memenuhi standar tetapi memang hanya ada lapangan itu yang dapat digunakan sehingga mau tidak mau pertandingan bola dilaksanakan di lapangan itu. Lapangan itu dikatakan tidak sesuai standar karena dari kalibrasi lapangan itu saja sudah tidak benar. Lapangan itu miring sebelah sehingga membuat gawang di sisi lain lebih tinggi dari gawang yang satunya, karena hal itu tim yang terkadang menempati posisi lebih tinggi biasanya selalu menang. Tetapi tidak dengan pertandingan terakhir ini tim tokoh utama menempati bagian gawang yang lebih tinggi terlebih dahulu, tetapi karena hanya suatu ketidak beruntungan mereka kalah dan tokoh utama yang paling menyesali kejadian itu. Saat di waktu-waktu terakhir babak ke dua, bola liar telah berada di depan gawang tim tokoh utama, dan hanya sang tokoh utama yang dapat membuang bola tersebut jauh-jauh, tetapi hanya karena kondisi lapangan yang miring serta licin karena huja membuat tokoh utama terpeleset dan hanya menyentuh sedikit bagian dari bola sebelum ditendang oleh lawannya dan merobek jala gawang tim tokoh utama, dan hal itu membuat dirinya berhenti bermain bola.
Dalam cerita Makam Seekor Kuda diceritakan bagaimana pada saat zaman kolonialisme Belanda ada seorang Komandan yang sangat ditakuti oleh warga keturunan Tionghoa yang menduduki Indonesia. Dalam cerita itu juga diceritakan bagaimana perjuangan tokoh utama untuk membuat ibunya menerima pasangannya yang orang Barat tersebut, tetapi sang ibu tidak suka dengan orang Barat karena mereka menganggap orang barat itu semuanya orang Belanda. Ibu tidak merestui karena menurut ibu kakek akan sangat marah jika mengetahui sang tokoh utama berhubungan dengan orang barat, tetapi kakek sudah meninggal, dan pada suatu malam kakek mendatangi sang cucuk yang belum tertidur dan kakek bercerita tentang kuda tersebut. Pada suatu hari perayaan orang-orang Tionghoa, itu hari Pat Ngiat Pan, puncak perayaan bulan dewa-dewi. Di hari itu orang-orang Tionghoa sudah siap di klenteng dan siap dengan membawa patung dewa-dewa mereka, tetapi saat mereka sudah memulainya tiba-tiba berlari 2 serdadu Belanda serta Komandan Belanda yang ditakuti itu. Kakek dari tokoh utama tersebut menghadap sang komandan yang menyuruh mereka untuk menghentikan acara mereka tersebut, tetapi sang kakek menolak karena mereka sudah setengah perjalanan. Sang kakek juga menceritakan bagaimana ia sudah mendapat izin dari asisten sang komandan, tetapi sang komandan tetap ingin acara tersebut berhenti karena belum mendapat persetujuan dari dia sendiri. Sang komandan pun mengamuk dan mengambil tongkatnya dan hendak memukul patung Dewa Kwan Ti, tetapi sesaat sebelum tongkat itu hendak mengenainya kuda yang ditunggangi oleh komandan itu tiba-tiba berdiri dengan menganggkat kedua kaki depannya dan menjadi tidak terkendali. Serdadu yang panik itu tanpa sengaja memembakan senjata kearah kuda itu dan hingga kuda itu terkapar tidak bernyawa padahal itu adalah kuda kesayangan sang Komandan yang telah ia dapatkan dari atasannya yang sebenarnya kuda itu didapat dari seorang Jenderal Tionghoa. Komandan pun hanya dapat menangis tanpa mempedulikan dirinya yang terjatuh cukup kencang. Komandan itu kemudia membuatkan sang kuda itu makam sebelum masa 3 bulan jabatannya berakhir. Sang komandan pun sempat akan membuat sebuah patung untuk kudanya tetapi masa jabatannya berakhir. Setelah kejadian itu sang kakek bermimpi tentang ia di datangi sesosok yang sangat tinggi, gagah dan, berkumis panjang serta membawa senjata yang tidak asing ia lihat dan juga menunggangi kuda komandan tersebut. Sosok tersebut tak lain adalah Dewa Kwan Kong sang Dewa Perang, sehingga sang kakek menganggap bahwa kuda itu adalah kuda titisan dewa untuk menyelamatkan kaum Tionghoa yang ditindas dibebaskan dengan mengorbankan kuda tersebut. Sehingga akhirnya mereka sering bersembayang untuk kuda itu karena itu adalah kuda utusan dari dewa. Setelah itu sang tokoh utama tersebut pun bertanya bagaimana dengan pasangannya orang Belgia tersebut dan sang kakek setuju sehingga sang wanita pun ikut untuk berdoa bersama dengan tokoh utama.
Dalam sinopsis kedua cerita itu sama-sama menceritakan bagaimana dalam karya cerpen Thomas, ia selalu menuliskan dengan cara masa lalu suatu tokoh dan juga waktu yang telah berlalu cukup lama dalam masa lalu seseorang. Thomas menceritakan dengan runtut, satu demi satu, bagaimana tokoh-tokoh ini bereaksi dalam setiap masalah-masalah yang muncul. Mulai dari perkenalan penokohan dari peran utama, lalu mulai muncul masalah, sampai bagaimana masalah meningkat dan selesai melewati alur “Flashback”. Thomas menulis banyak cerpen, mau dari yang melatar belakangi hal-hal di Indonesia hingga hal-hal yang menyangkut Indonesia tetapi menyangkut dengan cerita lain. Pengaturan bahasa dan juga alur membuat cerita tidak bosan untuk dibaca dan juga membuat kita penasaran dengan apa yang terjadi dalam cerita itu. Bahasa yang mudah juga digunakan disetiap cerpen Thomas sehingga cerpen tersebut dapat dibaca oleh segala kalangan masyarakat dan juga mudah dimengerti. Cerita yang ditlusikan juga tidak bertele-tele dan membuat cerpen ini terasa pendek walaupun cerpen yang kebanyakan ia tulis lumayan panjang. (Matthew 12 IPA1 SMA Dian Harapan Daan Mogot)