Kamis, 21 Januari 2016

Sinopsis Novel Keluarga Cemara oleh Patricia Janice SMP Dian Harapan DM

Sinopsis Novel SUPERNOVA : Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh oleh Joshua...

Sinopsis Novel Merry Riana oleh Laurentia SMP Dian Harapan

Sinopsis Novel Unbrekable Wings oleh Mathew SMP Dian Harapan DM

Sinopsis Novel Gerhana Kembar oleh Nevan SMP Dian Harapan DM

Sinopsis Novel Earth oleh Catherine SMP Dian Harapan DM

Sinopsis Novel "Tuhan untuk Jemima" oleh Bryan Carlos SMP Dian Harapan D...

Sinopsis Novel "Autumn in Paris" oleh Celine Angelia SMP Dian Harapan DM

Sinopsis Novel "5 Cm" oleh Cecillia Delvina SMP Dian Harapan DM

Sinopsis Novel "Endesor" oleh Cindy Setiawan SMP Dian Harapan DM

Sinopsis Novel "Perahu Kertas" oleh Thenabelle SMP Dian Harapan DM

Sinopsis Novel "Sang Penantang Takdir" oleh Anthony SMP Dian Harapan DM

Video Sinopsis Novel Sang Pemimpi oleh Seivabel SMP Dian Harapan DM

Sinopsis Novel 7 Hari Menembus Waktu oleh Samantha SMP Dian Harapan DM

MEMBEDAH PESAN DAN MAKNA GURINDAM DUA BELAS PASAL 10



          Masih ingatkan kalian kepada cerita rakyat Malin Kundang? Cerita rakyat ini mengisahkan tentang soerang anak yang durhaka kepada ibunya dan akhirnya dikutuk oleh Tuhan menjadi batu. Pesan yang sama juga terdapat dalam gurindam ke satu dari pasal 10 ini yang berbunyi, “Dengan bapak jangan durhaka, Supaya Allah tidak murka”. Gurindam ini memiliki makna bahwa janganlah pernah durhaka kepada ayahmu. Berdasarkan makna yang diberikan oleh penulis gurindam, dapat kita simpulkan bahwa penulis ingin memberi tahu kita bahwa bagaimanapun keadaan dari kedua orang tua kita, kita tidak boleh membantah dan melawan orang tua kita. Kita seharusnya menghormati dan membalas budi mereka yang telah berjuang dan bersusah payah saat membesarkan kita. Hal itu penting karena Allah sendiri telah memberikan perintah serupa yang terdapat di dalam 10 perintah Tuhan yang berbunyi “Hormatilah ayah dan ibumu”. Sejak zaman dulu, Allah sudah memerintahkan kepada manusia bahwa kita harus menghormati kedua orang tua kita dan apabila kita melanggarnya, kita sama saja dengan melanggar perintah langsung dari Tuhan.
            Tiada kasih di dunia yang melebihi kasih seorang ibu kepada anaknya. Oleh karena itu sudah wajib hukumnya bagi seorang anak untuk selalu menghormati ibunya. Sama seperti pesan dan makna yang terdapat dalam gurindam ini, “Dengan ibu hendaklah hormat, Supaya badan dapat selamat”. Gurindam dua belas pasal 10 ini memiliki makna bahwa setiap anak harus selalu hormat dan patuh terhadap ibunya karena seperti pepatah surga terletak di bawah telapak kaki ibu. Ibu adalah seorang sosok yang akan selalu menyayangi dan menerima anaknya tanpa syarat. Pada saat melahirkan kita, ibu menghadapi kesakitan dan perjuangan yang luar biasa bahkan terkadang seorang ibu harus mempertaruhkan nyawanya sendiri demi anaknya. Berbahagialah semua anak di dunia ini karena kasih seorang ibu kepada anaknya tidak akan pernah habis dan tidak akan pernah terbalaskan. Oleh karena itu, pesan yang dapat kita ambil dari gurindam ini adalah sebagai anak kita harus membalas semua kebaikan ibu dengan selalu menghormati dan menyayangi ibu kita, bukannya malah menyakitinya dengan keegoisan dan kesombongan kita sendiri karena ibu telah mempertaruhkan nyawa kita saat melahirkan kita.
            Berbeda dengan gurindam pertama dan kedua dari pasal 10 yang berisi pesan untuk menghormati orang tua, gurindam ke tiga dari pasal 10 menekankan pentingnya menjaga seorang anak karena bagaimanapun anak merupakan titipan dari Tuhan. Gurindam ke tiga pasal 10 itu berbunyi,“Dengan anak janganlah lalai, Supaya boleh naik ke tengah balai”. Anak adalah karunia dari Tuhan dalam sebuah keluarga. Namun tidak semua pasangan suami istri yang ingin memiliki anak kandung dapat memiliki anak. Oleh sebab itu, Pesan yang dapat kita ambil dari gurindam ini adalah sudah sepatutnya bagi setiap pasangan harus bersyukur kepada Tuhan karena telah dikaruniai seorang anak yang lahir kepada mereka dengan cara menjaga dan membesarkannya dengan baik. Namun di Indonesia, masih banyak orang tua yang belum sadar akan hal ini. Tidak sedikit anak-anak di Indonesia yang terlantar di pinggir jalan dan harus bekerja karena dipaksa oleh orang tua mereka sendiri. Mereka yang seharusnya menghabiskan waktu muda mereka dengan belajar, harus bekerja demi melaksanakan keinginan orang tua mereka. Fenomena seperti ini harusnya tidak terjadi apabila orang tua mereka sadar bahwa bekerja untuk mencari nafkah adalah kewajiban dari orang tua bukan malah di lemparkan kepada anak. Pendidikan juga sangat penting bagi seorang anak untuk mempersiapkan sikap dan mental dari anak, dengan kata lain dengan menyekolahkan anak, itu merupakan suatu bentuk menjaga anak.
            “Dengan kawan hendaklah adil, Supaya tangannya jadi kapil”. Gurandam 12 pasal 10 ini memiliki makna bahwa kita harus bersikap adil kepada sesama teman. Adil adalah salah satu pribadi yang harus dimiliki oleh semua orang. Bila semua orang di dunia ini berperilaku adil terhadap sama, tidak akan ada orang yang merasa dirugikan dan kekacauan tidak akan terjadi. Bersikap adil bukan hanya berarti adil dalam barang atau materi yang biasanya sering disalah artikan menjadi “saya dapat 10 pisang , kamu juga dapat 10 pisang”, tetapi kita juga harus bersikap adil di dalam hati kita terutama saat kita menjalani kehidupan sosial. Melalui gurindam ini, kita diingatkan kembali mengenai pentingnya bersikap adil dengan teman karena dengan bersikap adil, maka orang lain akan menghargai kita karena kebaikan kita. Sebagai contoh dengan kita tidak memilih-milih teman, membantu teman yang berkesusahan tanpa pilih kasih. Pesan yang terkandung dari gurindam ini adalah dengan melakukan hal-hal kecil dari hati dengan bersikap adil, kita pasti akan dibalas dengan hal-hal positif seperti mendapatkan banyak teman dan teman kita akan menghargai kita, sehingga tidak ada salahnya apabila kita adil. (Virya 12 IPA1)

Makna dan Pesan dari Gurindam 12 Pasal 5



Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa
            Makna dari gurindam tersebut adalah orang yang mulia dan berbangsa dapat kita lihat dari perilaku dan tutur katanya yang berarti orang mulia dan berbangsa merupakan orang yang bijak karena selalu menjaga etikanya dalam kehidupan sehari-hari. Tanggapan saya terhadap pesan gurindam ini adalah orang yang bijak dapat terlihat dari perilakunya yang santun dan selalu menjaga tutur katanya. Sebaliknya, orang yang bodoh terlihat dari perilakunya yang keras dan hanya bahasa kasar yang keluar dari mulutnya.
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia
            Makna dari gurindam tersebut adalah orang yang bahagia adalah orang yang berhemat dan tidak melakukan perbuatan yang sia-sia, berarti orang berhemat yang akan berbahagia pada akhirnya, sedangkan orang yang mengejar dunia tak akan mendapat apa-apa karena yang. Tanggapan saya terhadap pesan gurindam ini adalah gurindam tersebut dapat mengingatkan banyak orang di dunia pada zaman ini bahwa hidup bermegah-megah dan boros hanya akan mendatangkan kehampaan hidup karena yang ia kerjakan adalah sia-sia. Orang yang berhemat tidaklah sedang melakukan perbuatan sia-sia karena ia menabung kepunyaannya untuk masa yang akan datang.
Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia
            Makna dari gurindam tersebut adalah orang yang mulia terlihat dari sikapnya, artinya adalah orang yang baik hatinya terlihat dari wataknya yang dermawan dan suka memberi. Tanggapan saya terhadap pesan gurindam ini adalah di dalam kehidupan sehari-hari kita dapat membedakan manakah orang yang dermawan maupun kikir melalui perbuatannya. Orang yang dermawan cenderung lebih peduli kepada kebutuhan sesama, sedangkan orang yang kikir adalah orang yang hanya mementingkan keperluannya sendiri.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu
            Makna dari gurindam tersebut adalah orang yang pandai tidak pernah jemu untuk belajar dan memetik pelajaran dari hidupnya, berarti orang yang pandai ialah orang yang rajin untuk terus belajar tiada henti. Tanggapan saya terhadap pesan gurindam ini adalah orang yang rajin belajar tiada henti karena ia sedang mempersiapkan bekal hidup untuk masa yang akan mendatang supaya mampu memenangkan dunia. Orang bodoh adalah orang yang malas-malasan dan tidak mau menambah pengetahuannya karena ingin terus berada di titik nyaman.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai
            Makna dari gurindam tersebut adalah jika kita ingin mengetahui sifat baik dari seseorang maka lihatlah dia saat bergaul dengan masyarakat, artinya kita dapat melihat kepribadian seseorang melalui cara dia bergaul dalam masyarakat. Tanggapan saya terhadap pesan gurindam ini adalah orang yang berkepribadian baik tidak akan terlibat dalam pertikaian karena ia disukai oleh orang banyak. Sedangkan, orang yang berkepribadian jahat akan memiliki banyak musuh karena dia bersikap tidak patut di hormati. (Thomas 12 IPA1)

MAKNA DIBALIK GURINDAM 12 PASAL TIGA



Apabila terpelihara mata, sedikitlah cita-cita. Gurindam tersebut memiliki makna mata harus dipergunakan sebaik-baiknya jangan sampai kita melihat apa yang dilarang Tuhan. Tuhan telah menganugerahkan kita dengan indera pengelihatan agar kita dapat menyaksikan dan mengagumi karya ciptaan-Nya. Oleh karena itu, kita harus bertanggung jawab atas pemberian Tuhan dengan mengendalikan pikiran dan mata kita agar tidak melihat hal-hal yang tidak senonoh di mata Tuhan.
Telinga harus dijauhkan dari segala macam bentuk gunjingan dan hasutan. Itulah makna dari gurindam yang berbunyi apabila terpelihara kuping, khabar yang jahat tiadalah damping. Kita sedang hidup pada jaman dimana orang mudah percaya dan mudah dihasut. Hanya dengan mendengar selentingan-selentingan dari orang sekitar, kita dapat dengan mudahnya percaya tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu. Banyak mendengar memang merupakan hal yang baik, namun akan lebih baik apabila kita dapat menyaring mana yang benar dan mana yang salah.
Salah satu gurindam 12 pasal tiga berbunyi apabila terpelihara lidah, nisacaya dapat daripadanya faedah. Gurindam diatas berarti orang yang menjaga omongannya akan mendapatkan manfaat. Di dalam komunitas sosial, orang yang dapat menjaga perkataannya akan jauh lebih dihormati dibandingkan dengan orang yang tidak dapat menjaga perkataannya. Pepatah yang seringkali kita dengar berbunyi tong kosong nyaring bunyinya. Pepatah tersebut berarti seorang yang banyak bicara namun omongannya tidak berbobot. Jadilah orang yang bijak dengan perkataan, karena setajam-tajam pisau, masih lebih tajam lidah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan, daripada segala berat dan ringan. Gurindam tersebut bermakna jangan mengambil barang yang bukan hak kita. Makna dari gurindam diatas sudah jelas, bahwa kita tidak boleh mencuri. 10 perintah Allah sendiri mengatakan bahwa kita tidak boleh mencuri. Contoh perbuatan mencuri yang banyak dikenal oleh orang adalah peristiwa kerusuhan pada Mei ’98 dimana banyak orang memanfaatkan peristiwa tersebut dengan menjarah dan mencuri toko-toko dan rumah orang. Orang-orang yang mencuri pada umumnya adalah orang-orang yang mencari jalan pintas untuk memiliki sesuatu yang menurutnya tidak dapat digapai secara legal. Orang-orang tersebut tidak puas dengan apa yang dimilikinya. Ketahuilah, Tuhan selalu mencukupi kebutuhan kita semua.
Hendaklah peliharakan kaki, daripada berjalan yang membawa rugi. Begitulah isi dari salah satu gurindam 12 pasal tiga. Makna dari gurindam tersebut adalah jangan merugikan diri dengan melakukan hal-hal yang mubajir dan maksiat. Melangkahlah dijalan yang benar dan di ridhoi. Pengakuan diri telah menjadi salah satu alasan bagi orang-orang yang melakukan hal-hal mubajir. Mereka ingin dipandang orang sebagai orang ‘hebat’ dengan melakukan berbagai hal bodoh dan dapat merugikan diri sendiri. Hidup hanya sekali, janganlah kita menyia-nyiakan pemberian Tuhan. (Stefano Eka 12 IPA1)