Selasa, 19 Januari 2016

Pesan Di Balik Makna Gurindam 12



“Dengan bapak jangan durhaka, Supaya Allah tidak murka”. Beginilah bunyi salah satu gurindam dalam pasal sepuluh yang bermakna, janganlah durhaka kepada bapak. Pesan yang ingin disampaikan oleh gurindam tersebut yakni sebagai anak, janganlah kita melawan bapak kita atau orang yang lebih tua. Contohnya pada saat ayah memberitahukan hal yang baik, kita harus dapat menerimanya bukan malah membantah. Namun di jaman sekarang ini masih banyak anak yang kurang begitu menuruti perintah ayahnya. Padahal, semua perintahnya semata-mata hanya untuk kebaikan sang anak. Seharusnya kita harus mendengarkan dan menuruti perintah nya agar kelak kita tidak sengsara dikemudian hari.
Masih di pasal yang sama, gurindam itu berbunyi “Dengan ibu hendaklah hormat, Supaya badan dapat selamat”. Kita pasti tahu bahwa setiap anak harus hormat dan patuh terhadap ibunya karena ada pepatah yang mengatakan bahwa surga berada di telapak kaki ibu dan juga  ibu pun telah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anaknya. Hal ini sudah tidak asing di telinga kita, memang benar bahwa kita sebagai anak harus patuh dan hormat kepada ibu kita. Hormat yang dimaksud bisa berupa perilaku seperti menuruti semua perintah ibu kita ataupun tidak memaksakan kehendak kita ketika ibu sedang dalam keadaan yang susah. Namun jika kita merefleksikan diri kita sendiri maupun orang disekitar kita. Terkadang banyak orang tidak menghormati dan bahkan tidak memperdulikan keadaan ibunya, mereka hanya memikirkan diri sendiri dan hanya ingin kebahagian untuk diri mereka sendiri. Tetapi apakah kita mengetahui perasaan ibu kita ketika kita memaksakan kehendak dan tidak mematuhi perintahnya?
       Selain dua gurindam diatas, adapun gurindam yang berkata, “Dengan anak janganlah lalai, Supaya boleh naik ketengah balai”. Kalimat tersebut mengajarkan kepada para orang tua untuk menjaganya dan merawat anaknya dengan penuh tanggung jawab merupakan hal yang sangat perlu dilakukan. Alangkah berharganya anak dimata orang tua karena selain anak adalah darah dagingnya, anak juga merupakan titipan dari Tuhan yang patut untuk dijaga. Akan tetapi, masih begitu banyak para orang tua yang tidak peduli dengan anaknya sendiri dan bahkan ada orang tua yang tega untuk menelantarkan anaknya. Hal ini banyak kita temui di Negara kita, Indonesia. Sebagai orang tua, kita perlu menunjukan nilai peduli yang tinggi terhadap anak kita.  Selain itu, mengajarkan hal-hal yang baik untuk anak merupakan langkah awal untuk menghargai titipan Tuhan.
           
           Akhir kata dari gurindam 12 pasal 10 yakni, “Dengan kawan hendaklah adil, Supaya tangannya jadi kapil”, Bersikap adil kepada teman merupakan makna dari gurindam diatas. Sebagai manusia ciptaan Tuhan kita diajar untuk bersikap adil kepada sesama. Dengan menjadi teman bagi sesama, bersikap adil dan bijaksana, kita dapat menjadi orang yang memiliki nilai yang diperlukan sebagai manusia. Dengan menjadi manusia yang adil, kita pun secara tidak langsung sudah mencerminkan perilaku Tuhan didalam diri kita. Selain itu, dengan bersikap adil kita dapat menciptakan hubungan yang baik antar sesama. Maka, bersikaplah adil agar orang lain menghargai kita.

(Kevin Gunawan 12 IPA1)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar