Minggu, 17 Januari 2016

Gurindam : Sederhana Nan Bermakna




            Salah satu gurindam pada pasal ke-8 dari Gurindam 12 yang diciptakan oleh Raja Ali Haji berbunyi “Lidah suka membenarkan dirinya, daripada yang lain dapat kesalahannya”. Gurindam ini memiliki makna yang mengajarkan kita untuk jangan suka menyalahkan orang lain, dan menganggap bahwa diri kita paling benar. Saat kita benci dengan keadaan yang kita alami atau sedang dalam masalah, seringkali kita menyalahkan orang lain sebagai sebab dari segala kesedihan, kekesalan, ataupun keterpurukan yang kita alami. Sebenarnya ini juga salah satu upaya kita untuk “menghibur” diri dengan merasa kalau masalah yang kita alami adalah karena kesalahan orang lain bukan kesalahan kita, padahal mungkin kita juga merupakan bagian dari kesalahan itu. Maka dari itu, sebaiknya dalam setiap masalah dan keadaan, kita harus mengoreksi diri terlebih dahulu, karena tidak akan ada manusia yang selalu benar. Setelah mengoreksi diri, barulah kita bisa merenungkan kembali sumber dari masalah yang kita sedang hadapi itu.
            Gurindam yang berbunyi “Ke’aiban orang jangan dibuka, ke’aiban diri hendaklah sangka”, memiliki makna yang mirip dengan gurindam diatas, yaitu, jangan membuka aib atau keburukan orang lain, tetapi kesalahan diri harus disadar. Seperti yang sudah dikatakan dari pesan gurindam sebelumnya, memang manusia itu seringkali mudah untuk melihat kesalahan orang lain, tetapi sulit melihat kesalahan sendiri. Kita perlu mengerti bahwa membuka keburukan orang lain adalah hal yang berbeda dengan menasihati orang lain. Hal yang benar dan bahkan perlu kita lakukan adalah menasihati orang lain, tetapi bukan dengan cara membuka keburukannya dan menghakiminya sesuka hati kita. Ketahuilah bahwa saat kita menghakimi orang lain, pastilah nanti kita juga akan dihakimi oleh orang lain. Oleh karena itu, sebaiknya kita sadar bahwa didalam hidup ini, tugas kita adalah perbaiki diri sendiri terlebih dahulu. Lihatlah balok di mata kita, bukan kerikil di mata orang lain.
            Pada pasal yang sama, gurindam yang berbunyi “Orang yang suka menampakkan jasa, setengah daripadanya syirik mengaku kuasa” memiliki makna yang menajarkan kita untuk jangan menginginkan imbalan dari setiap jasa yang telah kita perbuat. Salah satu natur manusia yang bisa dikatakan kurang baik adalah mengharapkan imbalan atau balasan saat melakukan suatu hal untuk orang lain. Natur manusia tersebut akan bertambah buruk lagi saat kita melakukan kebaikan pada orang lain hanya untuk mendapatkan imbalannya. Kita sebagai manusia yang beragama seharusnya tahu bahwa berbuat baik kepada orang lain adalah kewajiban dari setiap manusia, dan dalam pelaksanaannya kita harus melakukannya dengan hati yang tulus dan tanpa mengharapkan imbalan. Oleh karena itu, biasakanlah diri untuk melakukan segala perbuatan dengan ketulusan hati. Saat kita melakukan perbuatan baik dengan tulus hati, pasti kita juga akan merasa tenang sekaligus senang karena bisa membantu orang lain.
            “ Kejahatan diri disembunyakan, kebajikan diri diamkan”. Gurindam ini ingin mengingatkan kita, jika sifat-sifat jelek dalam diri kita saja kita tidak tampakkan, maka begitu juga kebaikan-kebaikan yang telah kita perbuat. Kita tentunya tidak ingin kita orang lain melihat sifat-sifat jelek kita, apalagi saat kita di depan umum. Maka seharusnya saat kita melakukan perbuatan baikpun, kita tidak perlu memamerkan dan membanggakan diri dengan apa yang kita sudah perbuat. Hal tersebut cukup diri kita dan Tuhan saja yang tahu karena perbuatan baik kita juga nantinya akan dibalas oleh Tuhan sendiri. Maka, jangan suka menyombongkan diri dengan perbuatan baik kita, karena bisa-bisa kita malah akan dipermalukan nantinya.
             Gurindam di pasal yang sama yang berbunyi, “Daripada memuji diri hendaklah sabar, biar daripada orang datangnya kabar”. Gurindam ini memiliki makna yang mirip juga dengan makna gurindam sebelumnya, yaitu, pujian tidak usah dibuat sendiri tapi tunggulah datangnya dari orang lain. Manusia tentunya menyukai pujian, namun terkadang saking inginnya dipuji sampai-sampai memuji diri sendiri. Mungkin hal ini tidak dilakukan secara langsung, namun contohnya seperti, berkata di depan orang lain bahwa kita baru saja membantu teman kita dengan meminjamkan uang kepada mereka dalam jumlah yang cukup besar, padahal kita juga dalam keadaan yang pas-pasan dan lalu menyebar-nyebarkan berita itu kepada semua orang. Hal-hal seperti ini sebenarnya tidak perlu dilakukan karena kalau memang kita melakukan hal baik dengan tulus maka pasti orang lain juga akan melihat perbuatan kita memang benar-benar tulus dan akan memuji kita. Tapi jangan juga jadikan hal ini menjadi ajang untuk mencari-cari pujian. Orang-orang yang berbuat baik pasti akan mendapatkan hal yang baik juga. Maka, perlu kita ingat bahwa pujian adalah hal yang otomatis jika perbuatan yang dilakukan memang benar-benar tulus, tidak perlu memuji-muji diri sendiri. Malahan yang akan kita dapat bukan pujian, tetapi malu.

(Carroline 12A1)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar