Minggu, 13 September 2015

Di Balik Sebuah Judul Cerpen



Desi Puspitasari, perempuan kelahiran Madiun, 7 November 1983, yang saat ini tinggal di Yogyakarta memiliki hobi fotografi, menulis, dan berkelana ke luar kota. Saat kecil, dia sangat menggemari novel-novel karya Enyd Blyton, R.L. Stine, dan Astrid Lindgren. Hal ini membuat Desi menyukai menulis.
            Hobi menulisnya tersalurkan dan berkembang setelah bergabung dengan LFP Yogyakarta. Prestasi dan karya – karyanya yang dipublikasikan adalah “Little Susie” yang dimuat dalam Kumpulan Cerpen Terpilih Balairung UGM (2003), “Laurence” yang dimuat dalam Kumpulan Cerpen Terpilih Balairung UGM (2004), Cerpenis terpilih Balairung UGM (2004), “Berawal dari Senyum” Juara I Lomba Cerpen Islami Fakultas Pertanian UGM (2004), dan “Gypsy Penari” (dongeng) dimuat dalam majalah Anak Kreatif (2005). Cerpen Desi lain yang berjudul Clos E dimuat dalam Koran Tempo pada 4 Maret 2012 dan “Gembok” dimuat dalam Media Indonesia pada 1 Februari 2015 memiliki keunikan pada judulnya.
            Gembok. Sekilas kalau kita membaca judulnya, dalam hati kita bertanya ada apa dengan gembok atau gembok apa yang dimaksudkan. Namun begitu kita membacanya, kita tahu cerita di balik gembok. Cerpen ini menceritakan seorang penulis yang bernama Wiechert.  Suatu hari Wiechert pergi ke toko kelontong membeli gembok karena diberi saran oleh pemilik gedung untuk keamanan ekstra. Pelayan di sana membantu dia untuk mencari gembok yang sesuai dengan keinginannya. Saat pelayan menjelaskan keunggulan gemboknya itu, Wiechert tiba – tiba mengatakan kata- kata berbau roman. Akhirnya Wichert pulang dengan gembok gratis yang diberikan pelayan itu dengan alasan dia menyukai Wiechert karena dapat obrolan tentang “gembok dan kunci”. Selain mendapat gembok gratis, Wiechert juga menemukan ide baru untuk menulis. Ide – ide baru dan unik bisa  didapatkan dari mana saja asal kita peka.
            Wiechert sebagai penulis yang sederhana tidak mempunyai banyak barang berharga di dalam apartemennya bisa dilihat dari kalimat. “Tidak ada barang berharga di dalam ruangannya kecuali mesin ketik dan setumpuk naskah setengah jadi –bila maling kelas teri mengerti literasi.” Selain sifatnya yang sederhana, Wiechert juga tidak terlalu memperhatikan kondisi fisik dan penampilannya. Bisa dilihat dari kalimat Wiechert memiliki tubuh yang kurus dan rambut yang berantakan.  
            Bisa dilihat dari kalimat Dari bayangan kaca perempuan itu memperhatikan rambutnya yang hitam pendek berantakan, matanya berkantung dan meski sudah ditutupi jubah, bahu kurusnya mencuat.”       
            Sementara tokoh  Jorg sebagai pelayan toko kelontong memiliki sifat yang nyentrik, dia suka memakai tindikan dan rambutnya juga dicat merah. Dapat dilihat dari kalimat  “Teringat Jörg, warna biru seragam, tindikan, rambut dicat merah, obrolan cinta teranalogi kunci dan gembok membuat Wiechert menemukan ide baru.”
            Dari cerpen ini, Desi Puspitasari sebagai penulis cerpen ingin mengingatkan kita semua bahwa ide bisa datang dari mana saja. Ide tidak akan selalu muncul walau kita terus berpikir dalam 1 ruangan.  Kita juga harus mencari pengalaman baru, bertemu dengan orang baru dan bersantai. Kebanyakan dari  kita akan terus berpikir untuk mencari sebuah ide untuk menulis / berinovasi. Padahal saat kita bersantai dan berbincang dengan orang lain adalah saat ide – ide terus bermunculan.
            Selain “Gembok” karya Desi yang lain adalah CLOS E.  Judul yang aneh dan membuat penasaran, Desi Puspitasari suka membuat judul yang membuat orang terheran – heran. Apa yang dimaksud dengan CLOS E? Bahasa Inggris dari kata tutup adalah Close, jika benar judulnya adalah kata tutup, tetapi mengapa ada spasi dari huruf S dan E. Setelah kita membacanya, kita akan mengerti cerita dibalik  kata CLOS E.
Seorang laki – laki kebingungan bertanya kenapa barnya bernama  CLOS E . Perempuan muda dan manis (anak pemilik bar) menceritakan cerita tentang ibunya Ros yang bertemu dengan narapidana yang lari dari penjara. Ros dan Thomas ( narapidana ) yang saling jatuh cinta ingin menutup bar dan menulis kata CLOS, tetapi akhirnya dilanjutkan dengan E yang tertinggal sehingga menjadi CLOS E.
            Tokoh “aku” dalam cerpen ini memiliki sifat yang humoris dan suka bercanda. Bisa dilihat dari kalimat  “Hai,” kataku. “Aku ingin bertanya satu hal. Apakah tadi sore ada taifun hebat? Menerbangkan huruf E sehingga ia bergeser menjauh dari kawanan huruf lainnya?   CLOS E?”  dan bisa juga dilihat dari kalimat “Hei, Thomas. Katakan kalau anak perempuan Ros kuliah mengambil jurusan sastra.”
            Tokoh “ perempuan” yang merupakan anak dari pemilik bar mempunyai sikap yang terbuka, dia suka berbagi cerita dan juga pribadi yang ceria. Bisa dilihat dari kalimat “Ia tertawa.Aku menyesap botol bir dingin pertama ketika perempuan itu mulai bercerita.”
            Dari cerpen ini, Desi ingin memberi tahu pembacanya bahwa kita harus membantu orang yang kesusahan. Seperti di cerpen ini Thomas lari dari penjara dan meminta bantuan kepada Ros, karena bantuan yang Ros berikan kepada Thomas, mereka berdua menjadi saling kenal dan akhirnya jatuh cinta. Apa yang terjadi jika Ros tidak membantu Thomas, mungkin mereka menjadi orang yang tidak kenal satu sama lain. Maka dari itu cerpen ini mengarahkan kita untuk membantu orang yang tidak kita kenal sekalipun.
            Desi Puspitasari membuat cerpen dengan bahasa yang sederhana sehingga tidak terlalu susah untuk dimengerti. Cerpen “ Gembok” dan “CLOS E” sama – sama mempunyai judul yang membuat para pembacanya penasaran dan ingin cepat – cepat membacanya. Alur yang digunakan di cerpen “Gembok” adalah alur maju karena Wiechert tidak pernah menceritakan masa lalunya ataupun flashback, sedangkan alur yang digunakan di cerpen “ CLOS E” adalah alur mundur karena si tokoh perempuan menceritakan kisah ibunya Ros dengan Thomas saat pertama kali bertemu dan juga mengapa barnya bernama CLOS E. Kedua cerpen ini juga mempunyai persamaan yaitu 2 2nya menceritakan orang yang memiliki persamaan dalam suatu hal dan saling menguntungkan satu sama lain. Di cerpen “Gembok”, Wiechert dan Jorg sama-sama menyukai cerita roman, karena itu Jorg mendapat teman ngobrol soal roman dan Wiechert mendapat ide untuk menulis. Sedangkan di cerpen “CLOS E”, Ros dan Thomas sama – sama pernah membunuh orang dan saling jatuh cinta.  Kedua cerpen ini bagus, tapi menurut saya untuk cerpen yang berjudul “CLOS E”, akan lebih baik jika cerpennya memiliki pesan moral yang mengarahkan agar kita jangan pernah membunuh .
(Richard 12 IPA 1 SMA Dian Harapan Daan Mogot)













Tidak ada komentar:

Posting Komentar