Selasa, 15 September 2015

Makna Pesan Moral Di Balik Cerpen Kunang-Kunang



Ilham Q Moehiddin adalah seorang dosen yang mengajar kepenulisan kreatif di Settung Institute. Selain sebagai dosen, ia juga aktif dalam dunia sastra. Ia merekronstruksi kondisi masyarakat-negara lewat tulisan-tulisannya, khususnya fiksi dan esai, seperti ceren, novel, puisi, esai, kritik sastra, dan catatan perjalanan. Dua cerpen yang dibuat oleh Ilham yang mengambil judul dari binatang yaitu Kunang-Kunang Laut dan Pesta Kunang-Kunang.
            Cerpen kunang laut ini memiliki latar belakang tentang salah satu tradisi di suatu kelompok orang atau penduduk yang wajib untuk dipertahankan demi kehormatan masing-masing orang. Menceritakan tentang seorang perempuan bernama Harumi, yang sangat menyukai menjadi seorang Ama karena dapat melihat keindahan kunang-kunang laut dan juga sangat mencintai keindahan tersebut. Ama adalah sebutan bagi para nelayan wanita yang menyelam mencari mutiara. Namun, dia mempunyai seorang kakak perempuan bernama Ando, yang tidak mau menjadi seorang Ama, tetapi budaya keluarga mereka mengharuskan seorang perempuan untuk menjadi Ama. Karena Ando tidak mau mengikuti tradisi keluarga mereka, ayah mereka menjadi sangat marah dan menghukum Ando, ditambah lagi ayah mereka yang membandingkan Ando dengan Harumi, adiknya, yang mau menjadi seorang Ama. Dari sinopsis cerpen tersebut menggambarkan dari keadaan masyarakat jaman sekarang ini, dimana banyak orang yang mau mengikuti budaya-budaya dari luar yang baru dan dianggap lebih modern, sehingga banyak yang meninggalkan budaya lamanya yang menyebabkan matinya budaya lama. Hal ini terlihat begitu jelas pada kutipan berikut:
1.      Dua saudarinya menolak dengan alasan yang ia temui lewat cara Yoshi menatapnya. Mereka tolak cara-cara lama para Ama di seluruh pesisir timur Honshu dengan cara masing-masing, dan tak mau terjebak pada tradisi kuno Sugashima yang mengatur seperti apa perempuan memandang dirinya sendiri.
2.      “Sampai kapan Harumi menjadi Ama, Ayah?” Entah apa yang membuat Ando berani bertanya seperti itu pada kepala keluarga Hatake.
Merah muka Hatake. “Kehormatan perempuan Sugashima harus dipelihara!”
“Ke mana rasa malu klan Hatake saat Harumi telanjang dan hanya mengenakan fundoshi?”
“Mottainai!” Hatake memukul meja dan seketika mengubah warna dalu di pipi Ando menjadi pias. Ibunya menyerukan nama kehormatan Hatake, sebelum lelaki itu bertindak terlalu jauh. “Patuhi ayahmu, Hatake Ando! Bersikaplah seperti gadis lain di Sugashima ini. Jangan membuat kami malu.”
Malu? —Kata itu seperti belati kissaki-moroha.
Tatapan Ando memancarkan kebencian yang membuat ibunya cemas. Ando mengasihani Harumi, adik perempuannya yang bintik kulit dadanya berkilau seperti umi hotaru di kedalaman air.
3.      Yoshi seperti mendengar kabar yang dibawa kamome, bahwa Hatake telah mendera punggung Ando dengan cemeti ekor pari. Hukuman itu diterima Ando tanpa keluh, kecuali mata yang memancarkan kebencian dan amarah. Ia menolak permintaan ibunya agar menjerit untuk mengakhiri tindakan ayahnya. Ando mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
Semetara itu, cerpen pesta kunang-kunang ini mempunyai latar belakang yang hampir sama, namun bukan tradisi budaya, tapi tradisi perilaku orang-orang jaman sekarang ini. Menceritakan tentang kesetiaan seorang istri, yang bernama Intina, kepada suami yang sudah lama tidak kembali, walaupun banyak lelaki di kampungnya kerap menggodanya dan mengatakan untuk melupai suaminya yang telah lama tidak kembali. Namun dia tetap setia kepada suaminya. Selain itu, juga menceritakan anak dari Intina yang bernama Waipode, yang dibunuh oleh boneka-boneka Kalai yang hidup karena cemburu kepada Waipode. Lalu kalai membuat boneka yang menyerupai Waipode, dan juga menjadi hidup tiap malam, dan meminta Kalai untuk membakar semua boneka yang Kalai miliki.
Dari cerpen tersebut, dapat dilihat bahwa sang penulis ingin menyampaikan tentang keadaan masyarakat jaman sekarang ini. Yaitu mengingini perempuan milik orang lain, mudah cemburuan yang berujung niat untuk membunuh, dan juga balas dendam. Hal tersebut terlihat jelas pada kutipan berikut:
1.      Kalai menyadari bahwa hal aneh kerap terjadi di rumahnya saat larut malam. Bengkel kerjanya yang berantakan saat ia tinggalkan, selalu rapi esok paginya. Perkakas tersusun di tempat semula. Sampah rautan kayu hilang tak berbekas. Seluruh penjuru rumah bersih. Seperti ada tangan misterius yang telah membantu membereskan kekacauan itu
2.      Saat Kalai pulas, para boneka buatannya bergerak. Ya. Boneka-boneka kayu itu hidup dan turun dari rak pajang di tengah rumah. Mereka jelajahi tiap ruangan, bertingkah layaknya gadis muda yang sibuk merapikan rumah. Mereka kembalikan semua benda ke tempatnya, menanak bubur dan memanaskan kopi buat Kalai sebelum mereka kembali ke tempat semula sebelum fajar menyingsing.

3.      Tetapi, boneka-boneka itu mulai kerap membicarakan Waipode. Kehadiran gadis itu jadi masalah yang serius bagi mereka
4.      Mereka benci mendapati pemuda itu kerap mengagumi Waipode. Hanya butuh sedikit alasan untuk sebuah rencana kematian.
5.      Boneka yang sangat menyerupai Waipode. Boneka yang membuat Kalai tergila-gila. Boneka yang hidup di pengujung malam dan diam kembali sebelum fajar datang. Boneka yang kerap memestakan gairah Kunang-kunang, meminta Kalai memasukkan sepuluh boneka lainnya ke api tungku, dan membuat pemuda itu bersumpah tak lagi memahat boneka. (*)
6.      “Berhentilah menunggu Mori,” seorang di antara mereka coba meyakinkan Intina. Tetapi ia menjawab mereka dengan bantingan pintu. Cara yang perlu ia lakukan untuk menghancurkan harapan setiap lelaki di kampung ini.
7.      Intina mungkin bebal karena masih memelihara rindu. Mori pergi saat Waipode berusia delapan bulan. Di subuh terakhir ia menatap suaminya, adalah subuh saat Mori mengecup kening putrinya, lalu Mori menutup pintu rumah dari luar. Intina menanti di setiap subuh berikutnya, berharap Mori menguak pintu dan tersenyum pada mereka berdua. Waipode kecil yang tak pernah membaui tubuh ayahnya itu kini beranjak remaja.

Selain memiliki unsur ekstrinsik yang menonjol pada latar belakang, kedua cerpen ini juga memiliki unsur intrinsik yang menonjol pada bagian penokohan. Pada cerpen Kunang-kunang laut, terdapat 4 tokoh, yaitu Yoshi, Jiraiya, Harumi, dan Ando.
Tokoh pertama, yaitu Yoshi, memiliki sifat yang ramah dan rajin, serta hormat kepada orang yang lebih tua. Selain itu ia juga memiliki fisik yang kuat dan berkulit terang. Hal tersebut terbukti pada kutipan berikut:
1.      Dari ibunya, Yoshi menuruni sifatnya yang ramah. Tetapi dari Daiyo, Yoshu menetapkan katakter dirinya sebagai pemuda rajin
2.      ...dengan tubuh berhias oto dan berkulit terang.
3.      Jiraia menekan tubuhnya, membungkuk kecil saat menyodorkan teh dan disambut Yoshi dengan dua tangan.
Tokoh kedua, Jiraia, memiliki sifat yang bijak dan juga lemah lembut. Hal tersebut terbukti pada kutipan berikut:
1.      “kayu selalu dapat dibentuk, Urashima San”
2.      Jiraia menekan tubuhnya, membungkuk kecil saat menyodorkan teh dan disambut Yoshi dengan dia tangan.
Tokoh ketiga, Harumi, memiliki paras yang cantik, dia juga lincah dan periang dan memiliki warna kulit yang gelap. Selain itu, dia memiliki sifat yang penurut dan juga pasrah, karena dia adalah anak terkecil dalam keluarganya. Hal tersebut terbukti pada kutipan berikut:
1.      Harumi tak berdaya mengubah oendapat keluarga Hatake.
2.      Ia gadis lincah dan riang. Ia cantik dengan dahi sempit dan anak rambut yang kerap membelah di tepian ikat kepala berpola bunga sakura. Matanya sedikit besar dengan kulit muka yang agak gelap.
Tokoh keempat, yaitu Ando, memiliki sikap yang keras kepala, karena ia tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh ayahnya dan tetap berpegang pada pendiriannya. Hal tersebut terbukti pada kutipan berikut:
1.      Ia menolak permintaan ibunya agar menjerit untuk mengakhiri tindakan ayahnya. Ando mengatup bibirnya rapat-rapat.
Pada cerpen “Pesat Kunang-Kunang”, terdapat 3 tokoh di dalam cerpen tersebut, yaitu Intina, Waipode, dan juga Kalai. Berikut karakter-karakter dari masing-masing tokoh dalam cerpen “Pesta Kunang-Kunang”.
Tokoh pertama, yaitu Intina, memiliki sifat yang setia. Karena walaupun begitu banyak lelaki yang terus menerus menggodanya, ia tetap setia kepada suaminya, walaupun suaminya telah lama tidak kembali. Hal tersebut terbukti pada kutipan berikut:
“Berhentilah menunggu Mori,” seorang di antara mereka coba meyakinkan Intina. Tetapi ia menjawab mereka dengan bantingan pintu. Cara yang perlu ia lakukan untuk menghancurkan harapan setiap lelaki di kampung ini.
Tokoh pedua, yaitu Waipode, memiliki sikap yang kurang peduli dan juga pendendam. Hal gtersebut terbukti pada kutipan berikut:
1.      Waipode tak menanyakan ayahnya. Tentu sukar merindukan sesuatu yang tak pernah ia temui. Bagi Waipode, Mori adalah masalah ibunya dan itu bukan urusannya. Mori bukan orang yang ia lihat pertama kali saat matanya mulai terbuka.
2.      Boneka yang sangat menyerupai Waipode. Boneka yang membuat Kalai tergila-gila. Boneka yang hidup di pengujung malam dan diam kembali sebelum fajar datang. Boneka yang kerap memestakan gairah Kunang-kunang, meminta Kalai memasukkan sepuluh boneka lainnya ke api tungku, dan membuat pemuda itu bersumpah tak lagi memahat boneka. 

Tokoh ketiga, yaitu Kalai, mempunyai sikap yang pantang menyerah dan juga patuh. Secara kebersihan tempat kerjanya, Kalai selalu meninggalkan tempat ia bekerja dalam keadaan yang berantakan. Hal tersebut terbukti pada kutipan berikut:
1.      Kalai menyadari bahwa hal aneh kerap terjadi di rumahnya saat larut malam. Bengkel kerjanya yang berantakan saat ia tinggalkan, selalu rapi esok paginya. Perkakas tersusun di tempat semula. Sampah rautan kayu hilang tak berbekas. Seluruh penjuru rumah bersih. Seperti ada tangan misterius yang telah membantu membereskan kekacauan itu.
2.      Boneka yang sangat menyerupai Waipode. Boneka yang membuat Kalai tergila-gila. Boneka yang hidup di pengujung malam dan diam kembali sebelum fajar datang. Boneka yang kerap memestakan gairah Kunang-kunang, meminta Kalai memasukkan sepuluh boneka lainnya ke api tungku, dan membuat pemuda itu bersumpah tak lagi memahat boneka. 

Dari cerpen yang berjudul “Kunang-Kunang Laut” dan “Pesta Kunang-Kunang” ini tentunya mengajarkan kita suatu pesan moral. Pesan moral yang terkandung dalam cerpen “Kunang-Kunang Laut” menurut saya adalah sebagai anak, mentaati perkataan orang tua adalah tindakan yang baik dan hormat kepada orang tua. Sedangkan dalam cerpen “Pesta Kunang-Kunang”, pesan moral yang terkandung dalam cerpen tersebut menurut saya adalah sifat iri dan cemburu adalah sifat yang negatif yang tidak baik untuk terus dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari, melainkan sifat setia kepada pasangan yang kita punya yang harus dipertahankan sampai akhir.
Untuk cerpen berikutnya, Ilham Q.Moehiddin bisa mengangkat tema kehidupan remaja yang disertai pesan moral patriotisme yang dapat melekat dalam pikiran dan perbuatan sehingga generasi muda dapat  memajukan negara Indonesia. (Handhika 12 IPA 1 SMA Dian Harapan Daan Mogot)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar