Minggu, 13 September 2015

Sebuah Pembelajaran dari Nilai Moral Cerpen



Anggun Prameswari adalah seorang penulis novel dan cerpen yang lahir di Surabaya, 3 Juni. Pada tahun 2013, Anggun telah menerbitkan novelnya berjudul After Rain.  Sementara itu, cerpen-cerpen sudah dihasilkanya dapat kita jumpai di banyak majalah dan koran nasional. Bahkan, salah satu cerpen Anggun yang berjudul Wanita dan Semut-semut di Kepalanya, mendapatkan penghargaan sebagai cerpen terbaik 2014.
Cerpen “Wanita dan Semut-semut di Kepalanya” ini bercerita tentang seorang wanita yang mempunyai pikiran yang sangat rumit, sehingga membawanya untuk selalu berpikir negatif. Pada akhirnya, suaminya pun yang sudah 12 tahun bersamanya meninggalkannya karena sudah lelah dengan pikiran-pikirannya itu. Awalnya wanita ini bersikap seperti biasanya ; bekerja, pulang tepat waktu, membaca novel di halamannya, dan bahkan belanja setiap hari minggu. Padahal sebelumnya para tetangganya sudah bertaruh bahwa wanita ini akan kalap mencari suaminya kemana-mana karena suaminya sudah meninggalkannya berbulan-bulan. Akhirnya sampai di suatu titik, Ia menemukan surat cerai dari suaminya dan saat itu Ia langsung teringat dengan sumpahan terakhir suaminya, “Otakmu yang rumit itu, suatu hari akan habis dimakan semut-semut”. Sejak saat itu Ia menjadi takut dengan semut-semut. Ia mulai melihat 1, 5, 10.. bahkan berjuta-juta semut dirumahnya. Namun ini semua ternyata hanya ilusinya saja. Akhirnya wanita ini pun meninggal karena rumahnya penuh bau obat yang mencekik dan jasadnya ditemukan masih memegang surat perceraian suaminya.
Dari sinopsis cerpen tersebut, bisa kita lihat bagaimana dampak buruk dari perceraian yang digambarkan dengan sangat jelas oleh Anggun. Hal ini dapat kita lihat dari latar belakang sosial yang terjadi di Indonesia. Jumlah perceraian di Indonesia sangatlah tinggi, bahkan paling tinggi se-Asia Pasifik. Terlebih lagi, setiap tahunnya jumlah perceraian di Indonesia terus meningkat.
Selain itu kita juga dapat melihat dengan jelas bagaimana Anggun menceritakan cerpen ini dengan alur yang sangat jelas. Ia menceritakan dengan runtut, satu demi satu, bagaimana tokoh-tokoh ini bereaksi dalam setiap masalah-masalah yang muncul. Mulai dari perkenalan penokohan dari peran utama, lalu mulai muncul masalah, sampai bagaimana masalah meningkat dan dampaknya makin parah, dan akhirnya berakhir dengan kematian peran utama. Dalam cerpen ini, kita juga bisa melihat analogi yang digunakan oleh Anggun. Dari judul cerpen ini pun bisa kita lihat analoginya yaitu semut-semut di kepala wanita yang adalah peran utama cerpen ini. Semut adalah seekor binatang yang membuat gatal dan mengganggu. Maka dari itu, semut yang ditulis sebagai judul ini berarti pikiran-pikiran yang merumitkan si wanita. Karena pikirannya yang rumit, Ia menjadi terganggu dengan pikirannya sendiri yang akhirnya menyebabkan sang wanita mengalami gangguan jiwa. Hal ini bisa kita lihat dari pembicaraan sang pembantu dan si wanita, yaitu di paragraf ke-4,
”Bu, kok, pucat begitu?” dikumpulkannya nyali untuk bertanya.
”Bik, bagaimana caranya membunuh semut?”
”Hah?”
”Kudengar ada kapur ajaib yang bisa mengusir semut?”
Pembantu itu makin bingung.
”Belikan selusin. Ah jangan, dua lusin saja.”
”Banyak betul. Buat apa?”
”Mengusir semut, untuk apa lagi. Sebelum mereka makan habis otakku.”

Dari paragraf diatas, dapat kita lihat bahwa ini adalah permulaan perubahan mental sang wanita.
Hampir mirip dengan cerpen sebelumnya, cerpen lain dari Anggun yang berjudul Mata Seruni menceritakan tentang permasalahan di dalam keluarga. Namun di cerita ini, Anggun lebih fokus menceritakan tentang hubungan ayah dengan anak perempuannya. Marwan, tokoh utama dalam cerpen ini adalah seorang mantan preman. Namun Ia sekarang sudah meninggalkan kehidupan lamanya yang kelam dan memulai hidup seperti orang biasa. Namun, kebiasaan memang sulit untuk hilang. Sifatnya yang galak pun masih tertanam dalam dirinya. Anaknya Seruni pernah pulang malam setelah pergi bersama seorang laki-laki. Malam itu Marwan marah besar dan sampai-sampai mengurung Seruni sampai pagi di kamar mandi yang dingin dan gelap. Mulai dari hari itu, Seruni pun mulai merasa sakit hati kepada Ayahnya. Ayahnya selalu memperlihatkan sifat galak dan disiplin yang agak berlebihan. Seruni akhirnya tidak mengharapkan kasih dari Ayahnya lagi. Ia malah mendapat perhatian dari Jack, teman preman Ayahnya. Sebenarnya Marwan bersikap seperti ini karena dulu saat ia masih menjadi preman bersama Jack, Ia pernah memerkosa seorang perempuan yang akhirnya meninggal gantung diri beberapa hari kemudian. Maka dari itu Ia menyesali perbuatan kejinya dan ingin melindungi Seruni yang sangat cantik itu. Namun cerita ini berakhir dengan tambahnya penyesalan Marwan. Ternyata kasih sayang yang diberikan Jack kepada Seruni adalah cinta sebagai lelaki dan perempuan. Marwan menemukan Seruni dan Jack tidur bersama dan mata Seruni terlihat puas telah membalas kebenciannya terhadap Ayahnya.
Seperti cerpen Anggun yang berjudul Wanita dan Semut-semut Dikepalanya, cerpen “Mata Seruni” ini memiliki nilai moral yang cukup menonjol. Kedua nilai moral terletak di akhir dari cerita yaitu merupakan sebuah penyesalan. Pada cerita pertama, suami dari sang istri menyesal setelah kematian istrinya. Ia menyesal mengapa Ia menceraikan istrinya, dan bahkan mengapa Ia bertemu dengan istrinya dulu. Hal tersebut dapat kita lihat dalam cuplikan di paragraf ke 36 yang berbunyi Wajahnya pucat. Dalam hati ia mengumpat, andai waktu itu ia tak mengirimkan surat gugatan cerai. Andai ia tak menyumpahinya. Andai ia tak lelah mencintai wanita berpikiran rumit itu. Ah tidak, andai sejak awal ia tak jatuh cinta kepadanya.”
Di cerpen “Mata Seruni”, Ayah Seruni juga menyesal di bagian akhir yaitu saat Seruni akhirnya tidur dengan teman Ayahnya dan terlihat puas membalaskan dendam pada Ayahnya. Hal ini dapat kita lihat pada 3 paragraf terakhir yang berbunyi, “Marwan melintasi ruangan. Jack sibuk mengalungkan selimut di tubuh Seruni. Tapi gadis itu tetap duduk tegak. Tenang. Persis permukaan kolam, yang entah menyimpan apa di kedalamannya. Tangan Marwan terkepal erat, menahan panas menggelegak di dada.
Ada yang berdansa penuh kemenangan di balik kegelapan yang tak terjangkau bohlam-bohlam terbaik buatan manusia. Mereka terus bersukacita di ruang-ruang gelap tak tersentuh cahaya.
Termasuk hati Marwan yang gelap.” Dari paragraf ini digambarkan bahwa betapa Marwan marah dan menyesal karena Ia terlalu mengekang Seruni sehingga inilah balasan yang Ia dapatkan.
Selain persamaan nilai moral, perbedaan cerpen “Mata Seruni” dan “Wanita dan Semut-Semut di Kapalanya” terletak pada penokohannya. Dalam cerpen ini, Anggun menggambarkan penokohan tokoh Marwan yang sangat jelas, sehingga pembaca bisa benar-benar membayangkan tokoh seperti apa Marwan ini. Hal ini dapat kita lihat dalam beberapa kalimat yang ada di dalam cerpen, seperti,
Marwan tak henti melirik jam dinding. Detiknya berirama. Jika didengarkan seksama, terdengar bersahutan dengan degup jantungnya sendiri. Jam sepuluh lewat. Makin jarum panjangnya bergeser, makin morat-marit batinnya. Selarut ini, Seruni belum pulang juga. Ke mana dia? Sudah enam jam sejak ia pamit keluar sebentar, tanpa bilang hendak ke mana.
Tak lagi sanggup Marwan menghitung batang rokok yang ia isap. Peduli apa umurnya memendek karena napas yang tersumpal asap. Gemuruh di batinnya perlu ditenangkan dari bayangan buruk berkelebatan silih berganti menghuni benaknya yang sempit.”
Mereka mengkeret ngeri melihat bapak Seruni siap meledak seperti granat. Ah, semua orang tahu bapak Seruni mantan jawara penguasa terminal pinggir kota. Siapa berani melawannya?
Sekejap Marwan tak bisa mengendalikan diri. Hampir saja ditampar pipi tirus Seruni cilik, kalau tidak ditahan Jack.”
“”Aku lebih dari sekadar menyayanginya,” Marwan membela diri. ”Aku melindunginya.”
“Istrinya pernah bertanya, kenapa Marwan begitu keras pada anak mereka.
            Beberapa cuplikan diatas menggambarkan dengan jelas bahwa Marwan adalah seorang tokoh Ayah yang keras, disiplin, tidak sabaran, dan juga galak.
            Cerpen-cerpen yang dikarang oleh Anggun mengangkat tema yang sering kita temui dalam kehidupan di masyarakat. Perceraian, masalah keluarga, dan relasi ayah-anak yang tidak baik. Dalam cerpen-cerpennya ini Anggun menggambarkan lebih jelas tentang konsekuensi yang dapat terjadi dari masalah yang masyarakat “biasa” perbuat. Ia memperdalam cerita yang ironis yang bisa terjadi dibalik segala keputusan yang kita pilih. Cerpen yang dibuat oleh Anggun bisa dikatakan merupakan tema yang cukup biasa, namun Ia bisa mengagetkan pembaca dengan isi cerita yang tidak biasa, dan dengan bahasanya yang lugas.

Carroline 12A1 SMA Dian Harapan Daan Mogot

Tidak ada komentar:

Posting Komentar