Rabu, 16 September 2015

Menengok Latar Belakang Cerpen



Mardi Luhung adalah sastrawan yang lahir  di Gresik, Jawa Timur, 5 Maret 1965. Mardi Luhung merupakan salah satu penerima anugerah sastra Kusala Sastra Khatulistiwa, pada tahun 2010 melalui kumpulan puisinya, BUWUN/Bawean. Namanya masuk dalam Angkatan 2000 dalam buku karya Korrie Layun Rampan. Mardi Luhung dari SMP sudah mahir menulis puisi.
Ia, dengan santai, menulis ‘tukang jagal’, ‘kelamin yang dikerat’, ‘mayat gembong’, dan ‘kencing’ serta sederet ungkapan khas lainnya dengan logikanya sendiri, yang mampu membentangkan panorama kehidupan sosial pesisir yang keras. Sebagai penyair, Mardi Luhung tak henti memperluas dirinya sampai ke tapal-batas terjauh, bahkan hingga ke yang mustahil.. Lebih dari itu, ia juga menghasilkan karya cerpen yang bisa ditemukan di koran Kompas yang berjudulkan Jembatan Tak Kembali dan Lebih Kuat Dari Mati.
Kesamaan latar belakang dari cerita Jembatan Tak Kembali dengan Lebih Kuat Dari Mati yaitu menjelaskan tentang makna hidup. Cerpen pertama berbicara tentang makna kehidupan yang berkisahkan tentang jembatan yang menghubungkan antara tempat yang mempunyai segala yang ada sama seperti Surga dengan orang-orang kampung yang ingin hidup abadi dan mencapai kesempurnaan, sedangkan cerpen ke-2 berkisahkan tentang mati adalah hal yang tidak mempengaruhi kondisi orang dan kehidupan tidak ada kaitannya dengan Mati.
Cerpen Jembatan Tak Kembali :
Aku akan bercerita pada kalian. Bercerita tentang sebuah jembatan. Namanya                 adalah Jembatan Tak Kembali. Mengapa diberi nama demikian? Karena, setiap yang        menyeberang di jembatan itu, tak akan kembali. Disergap oleh batas yang ada di seberang sana. Seberang yang berkabut. Dan berisi kesempurnaan.”
Sedangkan bagi yang melihatnya. Yang berada di pingir-pinggir, dan yang tak ikut menyeberang, cuma bisa melambai. Sambil tetap mengarahkan pandangannya tanpa berkedip. Di hati mereka, pun penuh dengan doa. Doa yang bermuara pada satu harap: ”Cepat atau lambat, kami segera juga menyeberang. Menyusul mereka. Menyusul untuk mencapai kesempurnaan. Tunggu saja.”
Jose, Jose, ya, itulah nama orang yang tak mau menyeberangi Jembatan Tak        Kembali. Jembatan untuk memperoleh kesempurnaan. Hanya karena tak mau    meninggalkan kucing-kucingnya. Dan karena ketakmauannya itulah, banyak orang di kampung yang membicarakannya. Ada yang bangga. Ada yang cuek. Dan ada pula     yang diam-diam menyebut Jose sebagai si aneh.
Cerpen Lebih Kuat Dari Mati
”Akhirnya, aku memang percaya, jika antara sakit dan mati tak ada hubungannya”
” Dan itu dapat dilihat dari diriku sendiri. Diri yang kini sudah berumur hampir 70             tahun ini.Diri yang tetap bisa mandi, makan, jalan-jalan, nonton TV dan sesekali membaca ini-itu yang mungkin remeh-temeh. Diri, yang waktu umur 27 tahun, telah divonis oleh si dokter cuma bisa hidup 3 bulan.Tapi nyatanya?Hmmm, masih saja bertahan sampai kini. Bahkan, masih sanggup untuk menikmati apa saja yang enak-enak. Rawon, tempe penyet, hamburger, nasi kuning, martabak. Atau menonton siaran sepak bola dini hari.”
 
”Tapi, ahai, ternyata, seperti yang terjadi aku tidak mati.Dan meski 3 bulan telah   lewat. Diganti 5, 6, sampai 7 bulan. Terus setahun.Dan sekian puluh tahun (meski kerap kumat dan drop), aku tetap tak mati-mati.Tetap hidup.Bahkan, malah-malah sempat datang ke perayaan pernikahan Ninuk dengan lelaki yang punya usaha    penggilingan daging. Dan itu terjadi setahun setelah Ninuk memutuskan untuk pergi dari sisiku.” (Kenny 12 IPA 1 SMA Dian Harapan Daan Mogot)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar