Rabu, 16 September 2015

Kenangan dalam Cerpen



Sunlie Thomas Alexander adalah seorang pengarang yang lahir di Belinyu, Pulau Bangka, 7 Juni 1977.Terakhir studi di jurusan Diskomvis, Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta. Menulis cerpen, puisi dan esai yang dipublikasikan di majalah Horison, Jurnal Cerpen Indonesia, Jawa Pos, Suara Merdeka, Bernas, Lampung Post, Sriwijaya Post, Padang Ekspres, Sijori Pos, Sumatera Ekspres, Rakyat Merdeka, Bangka Pos, majalah Hai dan lain-lain. Terhimpun sejumlah antologi cerpen dan puisi bersama dan pemenang lomba, di antaranya, Kelekak (2005) dan Jalan Berantu Menuju Baro. Intens bergiat di Komunitas Rumah lebah, Yogyakarta dan bersama kawannya di Yogyakarta mendirikan Komunitas Ladang, sebuah kelompok studi kajian social-budaya dan filsafat. Saat ini berada di Bangka untuk menyelesaikan bakal novernya Langit Ketiga Puluh Tiga. Cerpennya Jelaga Hio terpilih sebagai 14 Cerpen Terbaik Sayembara Menulis Cerpen Anugerah Horison 2004.
Ia adalah seorang penulis yang handal serta terkenal dengan gaya penulisannya yang dengan alur “flashback” dan juga selalu menggambarkan cerita berlatar belakang sejarah maupun sejarah dalam waktu yang panjang maupun sejarah dari orang-orang tertentu yang mereka alami. Seperti 2 cerita yang berjudul “Kenangan akan Sebuah Pertandingan” dan “Makam Seekor Kuda”.
Dalam Cerita Kenangan pada Sebuah Pertandingan menceritakan bagaimana pengalaman menyakitkan seorang pemain bola yang tidak dapat terlupakan. Awalnya kejadian ia mengingat kejadian tersebut karena setelah pertandingannya yang terakhir ini, ia tidak pernah menginjakkan kakinya di lapangan bola itu lagi, tetapi karena anaknya yang sangat rewel suka sekali dalam hal sepak bola. Hal itu membuat ia menginjakan kakinya lagi di lapangan yang terakhir kali ia bermain bola. Dalam pertandingan itu diceritakan bagaimana timnya kalah pertandingan sepak bola yang telah menjadi harga diri kampung itu. Tetapi karena kondisi lapangan pula yang tidak memenuhi standar tetapi memang hanya ada lapangan itu yang dapat digunakan sehingga mau tidak mau pertandingan bola dilaksanakan di lapangan itu. Lapangan itu dikatakan tidak sesuai standar karena dari kalibrasi lapangan itu saja sudah tidak benar. Lapangan itu miring sebelah sehingga membuat gawang di sisi lain lebih tinggi dari gawang yang satunya, karena hal itu tim yang terkadang menempati posisi lebih tinggi biasanya selalu menang. Tetapi tidak dengan pertandingan terakhir ini tim tokoh utama menempati bagian gawang yang lebih tinggi terlebih dahulu, tetapi karena hanya suatu ketidak beruntungan mereka kalah dan tokoh utama yang paling menyesali kejadian itu. Saat di waktu-waktu terakhir babak ke dua, bola liar telah berada di depan gawang tim tokoh utama, dan hanya sang tokoh utama yang dapat membuang bola tersebut jauh-jauh, tetapi hanya karena kondisi lapangan yang miring serta licin karena huja membuat tokoh utama terpeleset dan hanya menyentuh sedikit bagian dari bola sebelum ditendang oleh lawannya dan merobek jala gawang tim tokoh utama, dan hal itu membuat dirinya berhenti bermain bola.
Dalam cerita Makam Seekor Kuda diceritakan bagaimana pada saat zaman kolonialisme Belanda ada seorang Komandan yang sangat ditakuti oleh warga keturunan Tionghoa yang menduduki Indonesia. Dalam cerita itu juga diceritakan bagaimana perjuangan tokoh utama untuk membuat ibunya menerima pasangannya yang orang Barat tersebut, tetapi sang ibu tidak suka dengan orang Barat karena mereka menganggap orang barat itu semuanya orang Belanda. Ibu tidak merestui karena menurut ibu kakek akan sangat marah jika mengetahui sang tokoh utama berhubungan dengan orang barat, tetapi kakek sudah meninggal, dan pada suatu malam kakek mendatangi sang cucuk yang belum tertidur dan kakek bercerita tentang kuda tersebut. Pada suatu hari perayaan orang-orang Tionghoa, itu hari Pat Ngiat Pan, puncak perayaan bulan dewa-dewi. Di hari itu orang-orang Tionghoa sudah siap di klenteng dan siap dengan membawa patung dewa-dewa mereka, tetapi saat mereka sudah memulainya tiba-tiba berlari 2 serdadu Belanda serta Komandan Belanda yang ditakuti itu. Kakek dari tokoh utama tersebut menghadap sang komandan yang menyuruh mereka untuk menghentikan acara mereka tersebut, tetapi sang kakek menolak karena mereka sudah setengah perjalanan. Sang kakek juga menceritakan bagaimana ia sudah mendapat izin dari asisten sang komandan, tetapi sang komandan tetap ingin acara tersebut berhenti karena belum mendapat persetujuan dari dia sendiri. Sang komandan pun mengamuk dan mengambil tongkatnya dan hendak memukul patung Dewa Kwan Ti, tetapi sesaat sebelum tongkat itu hendak mengenainya kuda yang ditunggangi oleh komandan itu tiba-tiba berdiri dengan menganggkat kedua kaki depannya dan menjadi tidak terkendali. Serdadu yang panik itu tanpa sengaja memembakan senjata kearah kuda itu dan hingga kuda itu terkapar tidak bernyawa padahal itu adalah kuda kesayangan sang Komandan yang telah ia dapatkan dari atasannya yang sebenarnya kuda itu didapat dari seorang Jenderal Tionghoa. Komandan pun hanya dapat menangis tanpa mempedulikan dirinya yang terjatuh cukup kencang. Komandan itu kemudia membuatkan sang kuda itu makam sebelum masa 3 bulan jabatannya berakhir. Sang komandan pun sempat akan membuat sebuah patung untuk kudanya tetapi masa jabatannya berakhir. Setelah kejadian itu sang kakek bermimpi tentang ia di datangi sesosok yang sangat tinggi, gagah dan, berkumis panjang serta membawa senjata yang tidak asing ia lihat dan juga menunggangi kuda komandan tersebut. Sosok tersebut tak lain adalah Dewa Kwan Kong sang Dewa Perang, sehingga sang kakek menganggap bahwa kuda itu adalah kuda titisan dewa untuk menyelamatkan kaum Tionghoa yang ditindas dibebaskan dengan mengorbankan kuda tersebut. Sehingga akhirnya mereka sering bersembayang untuk kuda itu karena itu adalah kuda utusan dari dewa. Setelah itu sang tokoh utama tersebut pun bertanya bagaimana dengan pasangannya orang Belgia tersebut dan sang kakek setuju sehingga sang wanita pun ikut untuk berdoa bersama dengan tokoh utama.
Dalam sinopsis kedua cerita itu sama-sama menceritakan bagaimana dalam karya cerpen Thomas, ia selalu menuliskan dengan cara masa lalu suatu tokoh dan juga waktu yang telah berlalu cukup lama dalam masa lalu seseorang. Thomas menceritakan dengan runtut, satu demi satu, bagaimana tokoh-tokoh ini bereaksi dalam setiap masalah-masalah yang muncul. Mulai dari perkenalan penokohan dari peran utama, lalu mulai muncul masalah, sampai bagaimana masalah meningkat dan selesai melewati alur “Flashback”. Thomas menulis banyak cerpen, mau dari yang melatar belakangi hal-hal di Indonesia hingga hal-hal yang menyangkut Indonesia tetapi menyangkut dengan cerita lain. Pengaturan bahasa dan juga alur membuat cerita tidak bosan untuk dibaca dan juga membuat kita penasaran dengan apa yang terjadi dalam cerita itu. Bahasa yang mudah juga digunakan disetiap cerpen Thomas sehingga cerpen tersebut dapat dibaca oleh segala kalangan masyarakat dan juga mudah dimengerti. Cerita yang ditlusikan juga tidak bertele-tele dan membuat cerpen ini terasa pendek walaupun cerpen yang kebanyakan ia tulis lumayan panjang. (Matthew 12 IPA1 SMA Dian Harapan Daan Mogot)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar