Selasa, 15 September 2015

Nilai-Nilai Pembelajaran dari Tokoh Cerpen



Di masa lalu, wanita tidak begitu menguasai dunia sastra. Tetapi pada zaman sekarang sudah muncul wanita-wanita yang berani untuk mengusai dunia sastra.  Salah satunya adalah Djaenar Maesa Ayu. Karya-karyanya sudah sangat fenomenal secara mendunia dikarenakan oleh keberanian nya untuk menggunakan kosakata ekstrim dalam setiap cerita yang ia buat. Didalam karyanya, ia berani menyebutkan hal-hal yang dianggap tabu oleh masyarakat. Seperti: menyebutkan alat kelamin, seks, dan lain-lain.
            Di dalam karya cerpen Djaenar, gaya bahasa yang dia gunakan mendetail untuk mejelaskan suatu keadaan sehingga pembaca mudah merasakan apa yang dialami oleh tokoh dalam cerita nya. Kemampuannya untuk menyebutkan hal mendetail terlihat dari cerpennya yang berjudul "Jemari Kiri". Berikut paragraf dari cerpen "Jemari Kiri".
"Kesal sekali Nayla dibuatnya. Bukan hanya karena ia sudah tak mampu lagi mengerjakan hal-hal besar dengan keseluruhan jemari di kedua tangannya saja. Tapi membersihkan kotoran yang menempel di duburnya setelah buang air besar pun ia tidak bisa. Walaupun tangan kirinya bisa bergerak seperti biasa, tapi diam saja kelima jarinya. Telapak tangannya seolah cuma berfungsi sebagai penyanggah jari-jemari yang kesemuanya merunduk ke bawah. Semakin besar upaya Nayla untuk mengguncangkan tangan kirinya, maka jejemari itu justru semakin terlihat lemah."
Dari contoh paragraf di atas, kita dapat merasakan betapa kesusahan si tokoh karena tangannya tidak dapat bergerak. Kita dapat merasakan kesusahannya karena si Penulis menjelaskan dengan mendetail keadaan tokoh. Seperti yang terdapat pada kalimat “Tapi membersihkan kotoran yang menempel di duburnya setelah buang air besar pun tak bisa”.
            Bahasa yang digunakan dalam cerpen “Jemari Kiri” mudah dimengerti dan hanya dalam sekali membaca saja, pembaca akan langsung mengerti alur cerita tersebut. Tetapi berbeda dengan cerpen Djaenar yang lainnya, yang berjudul “Ikan”. Gaya bahasa yang digunakan dalam cerpen "Ikan" lebih sulit dimengerti karena berbahasa kiasan. Berikut paragraf cerpen "Ikan".

Phuih! Ombak meludahi wajah kami yang ingin tak peduli. Tapi lendir ombak itu melekat begitu kental, begitu tengik! Mendakwa kelakuan kami sebagai jijik. Dan ia terpana. Girangnya sirna. Ia bukan lagi ikan yang terbang dan burung yang berenang. Dan ia menatap seolah saya adalah daging dan tulang yang terbalut kulit kerang. Muka badak, begitu istilah orang-orang. Maka saya tahu, hampir tiba saatnya waktu bersenang-senang hilang. Kebenaran dan kesalahan dipertanyakan. Saat penghakiman
            Pada cerpen "Ikan" terdapat kalimat ombak-ombak mendakwa mereka sebagai jijik. Kalimat tersebut memiliki arti lain, yaitu orang-orang sekitar menganggap mereka sebagai sesuatu yang jijik. Dalam membaca cerpen tersebut, diperlukan membaca lebih dari sekali supaya dapat berpikir lebih panjang supaya mengerti cerita dari cerpen tersebut.
Pada Cerpen "Jemari Kiri" unsur yang lebih di tonjolkan terdapat pada bagian penokohan dan nilai agama. Penokohan tokoh utama dari cerita “Jemari Kiri” lebih ditonjolkan karena menceritakan tentang sudut pandang seorang anak yang mengalami masalah mental yang menyebabkan ia mendapat mimpi buruk sejak ia dilecehkan gurunya. Cerpen ini menceritakan seberapa besar ketakutan tokoh utama jika ia suatu saat menikah lalu ditinggal oleh suaminya karena pelecehan tersebut merupakan aib besar. Penggambaran tokoh utama dari cerpen ini melalui perilaku tokoh. Berikut paragraf yang menggambarkan keadaan tokoh utama yang mengalami masalah mental.
Nayla pun segera berlari ke dapur untuk mengambil pisau lalu memotong jari-jemari tangan kirinya satu per satu. Betapa puasnya ia melihat jari-jemari itu jatuh menimpa lantai batu. Darah bercucuran seperti anak panah hujan. Mengubur jari-jemari kirinya yang berceceran.
            Nilai agama pada cerpen “Jemari Kiri” juga ditonjolkan karena tokoh utama berusaha menyembuhkan tangannya yang tidak dapat bergerak dengan mencari cenayang. Seharusnya ia pergi mencari cenayang atau kepala agama, bukannya dukun/cenayang. Berikut paragrafnya.

Nayla sudah mencoba berbagai cara agar jari-jemari di tangan kirinya berfungsi normal kembali. Di luar tindakan yang dilakukannya sendiri, ia pun mencoba berbagai macam jenis terapi. Mulai dari dokter spesialis tulang, sampai cenayang. Mulai dari ahli nujum, sampai spesialis tusuk jarum. Tapi tetap saja jari-jemari di tangan kirinya tak berfungsi seperti biasanya.

            Berbeda dengan cerpen “Jemari Kiri”, cerpen “Ikan” lebih menonjolkan latar tempat dan nilai sosial. Latar tempat pada cerpen “Ikan” lebih ditonjolkan karena sepanjang cerita, penulis terus menerus menggambarkan lingkungan tempat kejadian tersebut sedang berlangsung. Berikut paragraf dari cerpen “Ikan”.
Malam berenang dalam kesunyian. Deru ombak ditingkahi samar suara musik dari kafe di kejauhan pantai, saling beradu berebut perhatian. Kami terkapar di atas pasir basah. Dingin meresap pori-pori kulit kami yang telah menjadi keriput dan merinding. Entah karena dingin yang memanggang, entah karena nyala yang redup, entah karena basah yang kering, entah karena entah, karena entah adalah ketidaktahuan yang sering kali jauh lebih memabukkan daripada kesadaran.
            Dari contoh paragraf diatas, dapat kita ketahui bahwa latar tempat cerpen tersebut berada di pantai. Buktinya terdapat pada bagian “Deru ombak ditingkahi samar suara musik dari kafe di kejauhan pantai, saling beradu berebut perhatian. Kami terkapar di atas pasir basah. Dingin meresap pori-pori kulit kami yang telah menjadi keriput dan merinding.”
            Nilai sosial dari cerpen ini ditonjolkan karena menceritakan kondisi yang terjadi di tempat klub malam. Di dalam klub, perilaku-perilaku menyimpang dilakukan oleh orang-orang. Seperti: mabuk-mabukkan, berpesta pora, dll. Hal tersebut tidak sepatutnya ditiru/dilakukan oleh masyarakat karena secara sosial itu sudah dianggap salah. Berikut paragrafnya.
Suara musik di kejauhan membisikkan mimpi yang mutlak terulang. Sendawa alkohol di permukaan udara. Bahana tawa. Bercinta di bawah para-para. Pesta pora. Sentuhan menggoda. Senyum manja. Membuat saya begitu jengah dengan segala aturan-aturan.
            Berdasarkan cerpen “Jemari Kiri” dan “Ikan” karya Djaenar Maesa Ayu, dapat disimpulkan bahwa bahasa yang ia gunakan mendetail dalam menggambarkan keadaan cerita. Dalam karyanya, ia mampu menulis cerita yang dengan mudah mampu dimengerti pembaca maupun yang sulit dimengerti karena berbahasa kiasan. Walaupun cerita dari “Ikan” sulit dimengerti, namun sesungguhnya hal tersebut dimaksudkan supaya menghidupkan isi cerita. Cerita “Jemari Kiri” lebih menonjolkan penokohan dan nilai agama. Sedangkan “Ikan” lebih menonjolkan latar tempat dan nilai sosial. (Thomas Wesley 12 IPA1 SMA Dian Harapan Daan Mogot)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar