Senin, 07 September 2015

Melukis Kondisi Manusia



            Yanusa Nugroho adalah penulis asal Surabaya yang karya cerpennya telah dimuat di berbagai majalah dan surat kabar seperti Horison dan Kompas. Selain menulis cerpen, ia juga menulis cerita bersambung dan novel. Kemahiran Yanusa Nugroho di bidang sastra telah diakui oleh sastrawan global. Ia telah meraih banyak penghargaan, diantaranya adalah Penghargaan Multatuli untuk karyanya ‘Kunang-Kunang Kuning’ dan ‘Anugerah Kebudayaan’ untuk kumpulan cerpennya, Segulung Cerita Tua. Karya cerpen lain dari Yanusa Nugroho yang tidak kalah menarik dan dimuat dalam harian Kompas adalah ‘Perkenalkan... Namaku Gerimis’ dan ‘Bukit Mawar’.     
            Dalam cerpen terbitannya yang terbaru, ‘Perkenalkan... Namaku Gerimis’, Yanusa Nugroho bercerita tentang seseorang yang menderita kerinduan yang akut sehingga sering tertelan khayalannya sendiri. Tokoh tersebut memimpikan seorang wanita bernama Gerimis, yang merupakan kekasih idamannya yang setia menemani dia ketika kesepian. ‘Aku’ membayangkan dirinya di pantai, sedang berpacaran dengan Gerimis sembari curhat tentang kerinduannya akan istrinya dan ‘kekalahannya’ di dunia ini. Cerita ini berputar sekeliling tema nostalgia dan isolasi. Karena mayoritas cerita berlatar di dalam imajinasi tokoh ‘Aku’, penggunaan latar belakang masyarakat sangatlah minimal dalam cerpen ini.
            Tidak seperti cerpen ‘Perkenalkan... Namaku Gerimis’, yang mengisahkan suatu dunia khayalan, cerpen ‘Bukit Mawar’, yang diterbitkan lebih awal, lebih menekankan latar belakang masyarakat. Cerpen ini diceritakan dalam sudut pandang orang pertama. Tokoh ‘Aku’ bercerita soal temannya Arjuna yang sangat mencintai mawar. Siapa itu mawar? Bukan siapa-siapa.  Arjuna mencintai bunga mawar, dan di lahan kosong miliknya yang besar, ia bermimpi untuk menanam beribu bunga tersebut. Meskipun usia Arjuna hampir 40 tahun, ia merupakan sosok pemimpi yang sangat idealis, terturama dalam hal cintanya terhadap mawar, seperti yang dikomentari tokoh ‘Aku’ dalam cerita: Ada yang begitu murni, bodoh—mungkin—dan rasa cinta yang tulus, ketika dia mempertanyakan di mana akan menanam mawarnya.”
            Penjahat dalam cerpen ini adalah perusahaan  besar tempat tokoh ‘Aku’ bekerja. Mereka ingin membeli tanah Arjuna untuk dibangun mal. Bahkan, mereka sudah membangun mal tersebut tanpa izin Arjuna. Tentu saja, Arjuna tidak mau berdiam saja, dia menimbun tanah di sekeliling bangunan itu sehingga tertutup dan menciptakan sebuah bukit. Di bukit inilah tempat Arjuna menanam mawarnya pada akhir cerita, dan di kaki bukit mulailah dibangun warung kecil yang berjualan kopi dan ikan bakar.
            Pembaca dapat melihat dengan jelas kesenjangan sosial yang dialami Arjuna dalam cerpen ini. Perusahaan besar bisa dengan seenaknya membangun gedung di atas tanah Arjuna, seorang rakyat kecil. Arjuna tidak hanya pasrah begitu saja, tetapi dia bertindak secara langsung dan bahkan sempat ke sidang dan masuk dalam berita nasional. Bukit mawar yang telah dibagun Arjuna telah menjadi simbol bagi para rakyat jelata akan kemenangan mereka melawan perusahaan besar yang opresif.
            Seperti dalam cerita, kehidupan nyata seringkali juga seperti itu. Sawah dibeli oleh perusahan properti super kaya yang ingin membangun perumahan di atas tanah tersebut. Tanah yang seharusnya dipakai untuk membangun taman, fasilitas rekreasi yang sekaligus berfungsi sebagai penyedot karbon dioksida, malah dipakai untuk membangun mal, yang malah menyebabkan macet karena letaknya yang kurang strategis. Terkadang, semangat dan idealisme tokoh Arjuna dibutuhkan dalam jiwa masyarakat untuk dapat mencegah terjadinya hal seperti ini. Cerpen ini menitipkan sebuah pesan bahwa masyarakat harus lebih aktif menentang pembangunan yang tidak diinginkan, misalnya dengan membuat petisi untuk menolak pembangunan pabrik di dekat perumahan.
            Walaupun cerpen ‘Perkenalkan... Namaku Gerimis’ kurang mengintegrasikan latar belakang masyarakat ke dalam alurnya, bukan berarti nilai-nilai yang dapat dipetik dari cerpen ini tentang dunia nyata juga sedikit. Walaupun tokoh ‘Aku’ dari cerpen ini lebih melankolis dan pasrah dibandingkan tokoh Arjuna, sebenarnya, ia masih berharap dan berjuang agar dapat berhenti dari ‘kecanduannya’ berkhayal. Seperti tokoh ‘Aku’, harapan juga harus kita pegang dengan teguh agar bisa tegar melewati masa-masa sulit, seperti saat kehilangan orang-orang yang dicintai.
            Dalam dua cerpen ini, Yanusa Nugroho  sering menggunakan metafora dan simile, seperti ‘...kantormu itu gurita dengan sejuta tentakel’ dan ‘seperti duri dalam daging’ dalam cerpen ‘Bukit Mawar’ dan ‘Aku ingin menjelma Santiago’ dalam cerpen ‘Perkenalkan... Namaku Gerimis’. Terkadang, metafora ini kurang jelas dan hanya dapat dimengerti beberapa orang yang berpengalaman seperti dalam kasus ‘Aku ingin menjelma Santiago’. Majas tersebut hanya dapat dimengerti orang yang pernah membaca novel ‘The Old Man and the Sea’ karya Ernest Hemingway, karena merupakan referensi kepada tokoh utama novel tersebut. Jika menggunakan majas seperti demikian, sebaiknya Yanusa Nugroho menyelipkan footnote yang menjelaskan dengan lebih detil tentang referensi tersebut agar pembaca awam juga dapat memahami dan menginterpretasikan cerpennya dengan lebih mudah.
            Sebaliknya, Yanusa Nugroho telah mendemonstrasikan ketrampilannya di dunia sastra melalui dua cerpen ini. Walaupun terkadang cerpennya mengandung majas yang esoterik, melalui dua karya sastra ini, Yanusa Nugroho telah menciptakan karya yang mengharukan sembari menggambarkan hubungan sosial dalam masyarakat, melukiskan nilai suatu harapan dan idealisme, serta menitipkan pesan moral di dalam kisah-kisahnya yang, walaupun melankolis, mengajar tentang kondisi manusia sekarang.
(Celine Devianty / 12 IPA 1 SMA Dian Harapan Daan Mogot)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar