Senin, 28 September 2015

Nasihat Baik Tidak Boleh Diabaikan



Tiga orang sahabat bernama Arman, Andi, dan Dino bersekolah di Sekolah Dian Harapan Daan Mogot dan duduk di kelas 8. Mereka telah menjadi sahabat sejak SD dan berlanjut hingga SMP. Andi dan Dino memiliki sifat yang baik dan sangat disiplin karena keduanya sangat peduli terhadap penampilan masing-masing, mengerjakan tugas dengan rajin serta mengumpulkannya tepat waktu, dan selalu taat kepada guru sedangkan Arman memiliki sifat yang sangat berbeda dengan Andi dan Dino, Arman lebih memilih untuk bermain setiap hari, tidak peduli terhadap penampilannya, selalu membantah dan tidak pernah mendengarkan nasihat guru.Arman juga sering diingatkan oleh Andi dan Dino supaya lebih sopan kepada guru dan tidak bermalas-malasan dalam belajar sampai-sampai Arman ditegur oleh guru karena melanggar tata tertib yang berlaku di Sekolah Dian Harapan.

Babak  1
      Pada saat masuk sekolah setelah libur panjang, Arman,Andi, dan Dino merencanakan untuk makan di kantin pada siang hari atau istirahat ke dua untuk membicarakan pelajaran di kelas 8. Tetapi, pada saat mereka bertemu, Arman langsung dinasehati oleh Andi dan Dino karena penampilannya yang tidak sesuai dengan tata tertib sekolah.

Adegan 1
      Pada hari Rabu,7 Agustus 2015 seluruh siswa Sekolah Dian Harapan Daan Mogot datang ke sekolah setelah libur kenaikan kelas.
Guru    : “Selamat pagi murid-murid semuanya, perkenalkan nama saya adalah Ms. Irawati dan                                                                                                 guru yang menemani saya untuk mengajar kalian bernama Mr. Asep, kami berdua akan menjadi wali kelas kalian selama tahun ajaran 2015-2016.”(sambil tersenyum)
Murid  : “Baik,Ms.”
Guru    : “Kalian di kelas ini harus mematuhi tata tertib yang ada di Sekolah Dian Harapan Daan Mogot dan peraturan ini betul-betul harus dipatuhi karena berlaku sangat keras kepada seluruh siswa.”
Murid  : “ Oke, Ms.”
Guru    : “ Jika kalian tidak mematuhi tata tertib sekolah, hukuman apa yang pantas diberikan kepada pelanggarnya, jika sampai ketahuan melanggar?”
Murid  : “ Dinasehati dan berdiri di depan kelas selama pelajaran berlangsung.” ( dengan nada yakin )
Guru    : “ Apa kalian yakin dengan keputusan kalian? Karena keputusan tersebut akan berlaku selama setahun.”
Murid  : “ Yakin, Ms.”
Guru    : “ Baiklah, kalau begitu kesepakatan kita telah selesai dalam mematuhi peraturan sekolah.”
Murid  : “ Iya bu.”

Adegan 2
Setelah belajar selama beberapa jam Andi, Dino, dan Arman memutuskan untuk beristirahat di kantin lantai 3 Sekolah Dian harapan untuk membicarakan tentang pelajaran yang akan mereka hadapi di kelas 8 dan penampilan masing-masing.
Andi    : “ Wah, tidak terasa yah kita sudah kelas 8 sekarang.” (dengan nada santai)
Dino    : “ Iya yah, jika kita sudah bertambah besar maka cara belajar kita juga harus berubah dari kelas-kelas sebelumnya karena pelajaran di kelas 8 bertambah sulit dan tugas-tugasnya juga bertambah banyak.” ( dengan bijak)
Arman : “ Menurutku tidak ada yang harus diubahlah dan lebih asik bermain daripada belajar.”
Andi    : “ Kamu tidak boleh bermalas-malasan di kelas 8 ini Arman karena nilai-nilai di kelas 8 ini sangat penting untuk ijazah kita.”
Dino    : “ Ya aku setuju dengan pendapat Andi.”
Arman : “ Ya sudahlah aku akan belajar lebih giat dibandingkan kelas 7.” ( dengan nada malas)
( Beberapa menit kemudian, penampilan Arman di komentari oleh Andi dan Dino.)
Andi    : “ Arman, kok kamu berpenampilan tidak sesuai dengan tata tertib sekolah.”
Arman : “ Memangnya kenapa? ada masalah dengan penampilanku.”
Dino    : “ Tentu saja, kamu tidak menggunakan ikat pinggang dan dasi.”
Andi    : “ Poni rambutmu juga sudah di bawah alis mata, maka kamu harus menggunting rambutmu yang sudah panjang dan juga sepatumu tidak berwarna hitam.”
Arman : “ Kalian ini cerewet sekali yah, suka suka aku lah mau rambutku panjang atau tidak.”    (dengan nada kesal)
Dino    : “ Kami tidak bermaksud cerewet kepadamu, tapi kami hanya ingin memperingatkanmu.” (sambil menasehati Arman)
Arman : “ Baiklah, besok aku akan mengubah penampilanku supaya lebih taat pada tata tertib sekolah.”

Adegan 3
Keesokan harinya Arman datang ke sekolah, tetapi penampilan Arman tidak banyak berubah. Arman hanya merubah penampilannya dengan menggunakan dasi Sekolah Dian Harapan dan ikat pinggang. Tetapi, Arman tidak memotong rambutnya dan tetap menggunakan sepatu yang banyak warna putihnya.
Andi    : “ Arman, kok penampilanmu tidak banyak yang berubah.” ( dengan heran)
Dino    : “ Iya Ar, kamu hanya merubah penampilanmu dengan menggunakan dasi sekolah dan ikat pinggang.”
Arman : “ Biar saja lah, yang penting kan penampilanku berubah.” ( dengan nada tidak merasa bersalah )
Andi    : “ Arman, kalau kamu tidak segera mengubah penampilanmu, kamu bisa ditegur guru.”    ( dengan nada menasehati ) 
Dino    : “ Betul tuh, memangnya kenapa kamu tidak merubah penampilanmu terutama rambutmu?”
Arman : “ Aku malas untuk memotong rambutku, lagipula aku lebih suka gaya rambutku yang sekarang.” ( dengan nada santai)
Andi    : “  Ya sudahlah, tapi jika kamu ditegur guru jangan salahkan kami karena kami telah memperingati kamu.”
Arman : “ Iya, lagipula mana mungkin ada guru yang akan menegurku kan mereka tidak melihat penampilanku secara detail seperti yang kalian lihat.” ( sambil menggerutu)
( Setelah Arman dinasehati kedua temannya, ia menggerutu sendiri.)
Arman : “ Mengapa sih Andi dan Dino cerewet sekali kepadaku, padahal cuma karena penampilanku yang kurang sesuai dengan tata tertib sekolah.” ( dengan nada kesal)
Arman : “ Andi dan Dino ada ada saja, guru mana yang akan menegurku cuma karena masalah penampilan.”
Arman : “ Lebih baik aku diamkan sajalah omongan mereka yang terlalu banyak dan aku jauhi mereka.”
( Tiba-tiba seorang guru bernama Pak Budi datang menghampiri Arman.)
Pak Budi : “ Hey Arman, mengapa kamu tidak memotong rambutmu yang sudah panjang?”
Arman : “ Iya pak, kemarin saya ingin memotong rambut saya tetapi tidak ada waktu.” ( sambil merasa takut dan gemetaran )
Pak Budi : “ Lalu, mengapa warna sepatumu banyak warna putihnya.”
Arman : “ Pada saat libur saya lupa untuk membeli sepatu yang berwarna hitam, pak.”
Pak Budi : “ Jangan banyak alasan, lain kali kamu harus sadar sendiri atas penampilan kamu.”
Arman : “ Baik, pak.”( dengan nada takut)


Babak 2
Arman yang tidak jerah dinasehati sekali, harus menghadapi beberapa kali teguran dari guru lainnya dan Pak Budi yang tidak tahan melihatnya melanggar tata tertib sekolah segera memberitahukan kepada wali kelas Arman.  Wali kelas Arman merasa Arman sudah keterlaluan karena dia tetap belum merubah penampilannya yang melanggar tata tertib sekolah sehingga wali kelas Arman menyuruhnya untuk berdiri selama pelajaran berlangsung dan Arman juga  menerima teguran dari wali kelasnya sampai-sampai karena sudah keterlaluan terpaksa wali kelas Arman memanggil orang tuanya untuk memberitahukan nilai sikap anaknya akan dikurangi karena suka melanggar tata tertib sekolah. Walaupun pada saat mengambil raport akhir semester, Arman jerah dan berjanji kepada wali kelasnya bahwa dia tidak akan melanggar tata tertib sekolah lagi dan akan selalu mendengarkan nasehat guru pada tahun ajaran berikutnya.                                                                                                                                                                                                                                                                                                         

Adegan 1
            Arman tetap tidak mengubah penampilannya yang melanggar tata tertib sekolah padahal ia sudah diperingatkan oleh teman-temannya dan juga Pak Budi. Akhirnya ia harus ditegur oleh beberapa guru dan juga Pak Budi melaporkan hal tersebut kepada wali kelas Arman sehingga ia dinasehati setelah pulang sekolah.
Pak Anto : “ Arman! Mengapa kamu tidak menggunakan sepatu berwarna hitam? Padahal pada       awal tahun ajaran sudah diberitahukan tata tertib sekolah yang baik dan benar.”
Arman : “ Iya pak, saya belum sempat membeli sepatu baru yang berwarna hitam.” ( dengan nada ketakutan )
Pak Ridho : “ Hey Arman, mengapa rambutmu belom digunting? Poni rambutmu sudah di bawah alis kan memangnya kamu bisa melihat dengan rambut seperti itu ?.”
Arman : “ Iya pak, besok saya janji saya akan memotong rambut saya.” ( sambil berjanji )
( Pak Budi yang melihat beberapa kejadian Arman ditegur guru lain segera memberitahukan hal tersebut kepada wali kelas Arman sehingga ia harus menunggu sebentar setelah pulang sekolah.)
Bu Irawati : “ Arman, saya dengar kamu ditegur beberapa kali oleh guru-guru karena melanggar   tata tertib sekolah, apakah itu benar?”
Arman : “Benar bu.”
Bu Irawati : “ Mengapa kamu melakukan hal tersebut ?” ( dengan nada bingung dan kesal)
Arman : “ Karena saya tidak sempat untuk memotong rambut saya dan membeli sepatu yang berwarna hitam bu.”
Bu Irawati : “ Lain kali kamu harus mempersiapkan hal-hal yang diperlukan pada saat masuk sekolah terlebih dahulu sebelum liburan?”
Arman : “ Baik bu, lain kali saya akan mempersiapkan keperluan sekolah terlebih dahulu.”

Adegan  2
Wali kelas Arman tetap melihat bahwa tidak ada perubahan pada sikap dan penampilan Arman, sehingga membuat  guru tersebut kesal dan menghukum Arman untuk berdiri di depan kelas selama pelajaran berlangsung.
Bu Irawati : “ Arman! sekarang kamu berdiri di depan kelas selama pelajaran berlangsung.”
Arman : “ Memangnya saya salah apa bu, mengapa saya harus berdiri di depan kelas?” ( sambil kebingungan
Bu Irawati : “ Kamu seharusnya sudah tau kesalahan kamu sendiri.” ( dengan kesal )
( Lalu Arman segera berdiri di depan kelas sambil menggerutu.)
Arman : “ Mengapa aku selalu kena tegur setiap hari?” ( dengan merasa bingung )
Arman : “ Memangnya apa yang salah dengan penampilanku?”
Arman : “ Masa hanya karena penampilanku, aku harus selalu kena tegur.”
Arman : “ Lebih baik nanti aku meminta maaf baik-baik kepada wali kelasku.”
( Setelah Arman meminta maaf kepada wali kelasnya sikapnya tetap tidak berubah sehingga wali kelas Arman terpaksa harus memanggil orang tua Arman untuk memberitahukan bahwa nilai sikap anaknya akan dikurangi.)
Ibu Arman : “ Ada apa ya bu saya dipanggil ke sekolah?” ( dengan heran)
Bu Irawati : “ Saya ingin memberitahukan sesuatu kepada Ibu.”
Ibu Arman : “ Apakah ada masalah dengan Arman di sekolah ini?”
Bu Irawati : “ Iya bu, belakangan ini Arman sering ditegur oleh beberapa guru di sekolah ini.”
Ibu Arman : “ Memangnya ada masalah apa dengan Arman?”
Bu Irawati: “ Belakangan ini Arman melanggar tata tertib sekolah dengan tidak memotong rambutnya dan menggunakan sepatu yang warna dominannya adalah putih.”
Ibu Arman : “ Mohon maaf ya bu, saya kurang memperhatikan penampilan Arman selama dia berada di kelas 8 ini.” ( sambil merasa bersalah)
Bu Irawati : “ Iya bu, tapi saya terpaksa harus mengurangi nilai sikap Arman karena telah melanggar tata tertib sekolah.”
Ibu Arman : “ Baik bu, saya setuju karena saya berharap dia supaya menjadi anak yang lebih baik.”

Adegan 3
            Pada saat mengambil raport tengah semester Arman cukup terkejut karena ia mendapat nilai sikap yang kurang baik dari wali kelasnya, tetapi Arman cukup bangga dengan nilai-nilai akademiknya. Dan akhirnya Arman segera menemui gurunya untuk meminta maaf atas sikapnya.
Arman : “ Bu, saya minta maaf atas sikap saya selama berada di kelas 8.” ( sambil merasa sangat bersalah)
Bu Irawati : “ Iya tidak apa-apa asalkan kamu tidak mengulangi kesalahan tersebut dan harus selalu menepati omonganmu atau jangan suka berbohong.”
Arman : “ Baik bu, saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama pada semester ke 2.” ( sambil berjanji)
Bu Irawati : “ Bagus lah kalau kamu berkomitmen untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.”
( Lalu setelah Arman meminta maaf kepada wali kelasnya, ia juga meminta maaf kepada dua sahabatnya.)
Arman : “ Andi dan Dino maafkan aku kalau selama ini aku selalu mengabaikan perkataan kalian.” ( dengan nada merasa bersalah.)
Andi    : “ Tidak apa-apa Ar, maaf juga  kalau kami terlalu cerewet sama kamu.”
Dino    : “ Iya aku juga minta maaf kalau aku pernah salah berbicara.”
Arman : “ Aku sekarang sudah sadar kalau nasehat kalian sangat benar, terima kasih ya atas nasihat kalian selama ini.”
Andi dan Dino : “ Sama-sama Arman.”

Sejak saat itu, Arman selalu taat pada tata tertib sekolah dan berteman baik dengan sahabat-sahabatnya. Jadi, jika kita ingin menjadi orang yang hebat bukan berarti kita harus melupakan nasihat orang lain dan mengikuti jalan sendiri, tetapi kita harus menggabungkan nasehat dari orang lain dengan jalan kita sendiri karena belum tentu jalan yang kita pilih selalu benar di mata orang lain. (Daniel Jonathan 8H SMP Dian Harapan Daan Mogot)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar