Kamis, 22 Oktober 2015

Menjaga Kebersihan Sekolah



Prolog        
Di Sekolah Dian Harapan, ada sepasang sahabat bernama Dimas dan Budi serta seorang guru yang peduli dengan kebersihan sekolah bernama Ms.Ruth. Dimas adalah anak yang tidak peduli dengan kebersihan sekolah sedangkan Budi adalah anak yang rapih dan peduli dengan kebersihan sekolah. Mereka sedang jalan dari kantin ke kelas sambil minum teh susu jajanan. Saat sampai di kelas, Budi membuang gelas minum ke tong sampah. Tetapi, Dimas malah melemparkan gelas minumnya tetapi tidak masuk dan akhirnya tumpah ke lantai. Ms.Ruth dan Budi pun menegur Dimas dan menyuruhnya untuk membersihkan semuanya.

Babak 1

            Saat Dimas dan Budi sedang berjalan dari kantin ke kelas, Budi menanyakan tentang kebersihan sekolah ke Dimas. Dimas bilang bahwa dia tidak peduli tentang kebersihan sekolah. Budi pun marah dan menegur Dimas. Dimas bilang bahwa dia masih tidak peduli tentang kebersihan sekolah walaupun sudah ditegur oleh Budi. Saat sampai di depan kelas, Dimas menantang Budi siapa yang bisa memasukkan gelas plastik bekas minumannya mereka. Budi menolak karena dia tidak mau mengotori sekolah.

Adegan 1
            Dimas dan Budi sedang berjalan dari kantin ke kelas sambil minum teh  susu jajanan mereka dan mengobrol tentang banyak hal seperti kebersihan sekolah, teh susu mereka, pekerjaan rumah, dan lain sebagainya.
Budi:               “Dimas, teh susu ini enak juga ya.”
Dimas:           “Iya, Budi. Besok kita jajan ini lagi yuk!”
Budi:               “Oke. Eh, kamu udah kerjain pekerjaan rumah Matematika dan IPA belum?”
Dimas:           “Udah, kok. Kalau kamu?”
Budi:               “Sudah dong… Eh, ngomong-ngomong sekolah kita kayaknya kotor sekali, ya... Harusnya semua murid lebih peduli terhadap kebersihan sekolah tahu…”
Dimas:             “Ya ampun, Budi... Buat apa peduli tentang kebersihan sekolah? Kalau aku sih nggak peduli tentang kebersihan sekolah. Kalau sekolah kotor, ya sudah dibiarkan saja.”
Budi:                “Ih, kok kamu begitu, sih? Kan kita itu memang harus peduli terhadap kebersihan sekolah tahu. Kalau sekolah kotor, emangnya kamu bakal nyaman belajar dengan bau dan kotorannya?”
Dimas:           “Kayaknya bakal nyaman-nyaman aja. Jangan marah juga, kali...”
Budi:               “Aku itu memang pantas marah dengan kamu Dimas. Ya sudah, terserah kamu saja lah!”

Adegan 2
            Walaupun Budi sudah menegur Dimas, Dimas masih tidak merasa salah dan masih tidak peduli tentang kebersihan sekolah. Saat Budi dan Dimas melewati koridor SD, mereka menjumpai satu murid SD yang sedang memegang sampah di tangannya.
Anak SD:       “Koko, tong sampah yang paling dekat di mana, ya?”
Budi:               “Buat apa kamu mencari tong sampah?”
Anak SD:       “Mau buang sampah ini.” (menunjukkan sampah di tangannya)
Dimas:           “Buat apa kamu susah-susah cari tong sampah buat buang sampah sampah sekecil ini? Buang aja di lantai. Ga ada yang bakal tahu juga.”
Budi:               “Dimas! Masa kamu ngajarin anak SD kayak begitu sih? (menghadap ke anak SD) Eh, tong sampah paling dekat hanya tinggal jalan lurus.”
Anak SD:       “Oh, makasih ya, koko.” (lari lurus ke arah tong sampah yang terdekat)
Budi:               “Dimas! Kok kamu ajarin anak SD untuk buang sampah sembarangan, sih? Kan kebersihan sekolah itu penting. Kamu masih gak peduli?”
Dimas:           “Ya, kan terserah aku. Terus aku masih tidak peduli. Ayo, buruan. Nanti kita telat masuk kelas.”

Adegan 3
Dimas dan Budi terus berjalan ke kelas. Walaupun Budi masih marah, Akhirnya dia pasrah karena ia mengetahui sikap Dimas memang begitu. Saat mereka sampai di depan kelas. Dimas menantang Budi untuk melempar gelas plastik mereka dari jauh ke arah tong sampah di depan kelas. Tetapi minuman Budi dan Dimas belum habis.
Budi:               “Akhirnya sampai di kelas juga. Untung kita gak telat.”
Dimas:           “Makanya, kalau tadi kita ngobrol terus pasti nanti kita telat terus dihukum gara-gara kamu.”
Budi:               “Ya udah, sih. Ga usah marah-marah kali…”
Dimas:           “Eh, Budi. Coba, kamu bisa lempar gelas plastik kamu ke tong sampah itu gak? Kalau sampai masuk aku akan belikan apa saja yang kamu mau besok.”
Budi:               “Nggak mau, ah.. Nanti berantakan. Kalo Ms. Ruth dateng nanti di hukum gimana? Ms. Ruth guru yang juga peduli tentang kebersihan sekolah, lho.” (membuang gelas plastik ke dalam tong sampah)
Babak 2

            Budi sudah memperingati Dimas kalau melemparkan gelas plastik berisi teh susu itu akan tumpah kemana-mana. Tetapi Dimas masih tidak mendengarkan dan masih melempar gelas plastik itu. Saat dia melempar, gelas plastik yang berisi teh susu itu tidak masuk dan akhirnya tumpah kemana-mana. Dimas panik dan teriak menyuruh Budi untuk membantu dia untuk membereskan tumpahan teh susu itu. Tetapi sebelum Budi bergerak untuk membantu Dimas, Ms. Ruth datang dan melihat tumpahan teh susu tersebut. Budi menjelaskan apa yang terjadi ke Ms. Ruth. Ia pun menegur Dimas dan menyuruhnya untuk membereskan semua tumpahan itu.

Adegan 1
            Dimas melempar gelas plastik itu dan akhirnya tumpah dimana-mana. Dimas panik dan teriak menyuruh Budi untuk membantu dia untuk membereskan tumpahan teh susu itu. Tetapi sebelum Budi bergerak untuk membantu Dimas, Ms. Ruth datang dan melihat tumpahan teh susu tersebut.
Dimas:           “Nggak, lah.. Nggak mungkin berantakan kalo masuk.” (lempar tetapi tidak masuk)
Budi:               “Tuh, kan.. Berantakan!”
Dimas:           (teriak) “Kamu jangan diam-diam aja di situ. Bantuin!”
Ms. Ruth:       “Kenapa kalian teriak-teriak di koridor?” (melihat tumpahan)
Budi:               “Ini tadi si Dimas melempar gelas plastik yang masih ada isi teh susu ke tong sampah dari jauh, tapi nggak masuk akhirnya tumpah deh semuanya.”
Dimas:           “Ms. Ruth, maaf… Aku nggak sengaja.”

Adegan 2
            Ms. Ruth kira Budi tidak memperingati Dimas dan menanyakan mengapa. Budi menjelaskan bahwa sebenarnya dia sudah memperingati Dimas. Ms. Ruth menegur Dimas sekali lagi.
Ms. Ruth:       “Kamu kenapa tidak peduli sama kebersihan sekolah? Kamu hanya menyepelekan saja. Kalaupun kamu ingin melempar gelas plastik itu, harusnya sudah tidak ada isi. Terus Budi kenapa nggak peringatin Dimas?”
Budi:               “Justru tadi saya sudah peringatin Dimas kalau melempar gelas plastik itu pasti bakal tumpah. Dia malah nggak mau dengerin.”
Ms. Ruth:       “Kamu juga, kenapa kalau sudah diperingatin sama Budi masih aja dilakukan.”
Dimas:           “Maaf Ms. Ruth saya salah. Saya harusnya lebih peka terhadap kebersihan sekolah. Lain kali saya tidak akan melakukan ini lagi.”
Ms.Ruth:        “Janji, ya… Kita semua harus lebih peka dan peduli terhadap kebersihan sekolah. Ya sudah, kamu bersihkan tumpahan ini. Budi kamu bantuin ya.”
B&D:               “Iya, Ms. Ruth.”

Adegan 3
            Dimas akhirnya peduli dan peka terhadap kebersihan sekolah. Setelah kejadian itu, dia mulai menegur murid-murid lain yang buang sampah sembarangan bersama Budi.
Dimas:           (melihat murid yang membuang sampah sembarangan) “Hei, kamu buang sampah yang bener! Kamu harus lebih peka tentang kebersihan sekolah. Kamu nggak bisa perhatiin kalo sekolah kita ini sudah kotor banget?”
Murid:            “Oh, maaf. Bener, akhir-akhir ini saya memperhatikan sekolah kita ini memang benar-benar mulai kotor.” (memungut sampah dan membuang ke tong sampah)
Budi:               “Bagus, kamu juga tegur orang yang membuang sampah sembarangan ya.”
Murid:            “Iya, deh.”


Epilog
            Akhirnya Dimas pun sadar bahwa dia salah dan mulai peduli dan peka terhadap kebersihan sekolah. Saat dia melihat murid yang membuang sampah sembarangan, langsung dia tegur bersama Budi dan menyuruh murid itu untuk melakukan hal yang sama terhadap murid-murid lain yang membuang sampah sembarangan (menegur). Kita juga harus peduli dan menjaga kebersihan sekolah seperti Dimas dan Budi. Bila melihat teman atau murid lain yang membuang sampah sembarangan, kita patut menegurnya. (Gabriella Putri 8G SMP Dian Harapan Daan Mogot)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar